Tampilkan postingan dengan label Akhir Zaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhir Zaman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 September 2015

Misteri Ya'juj dan Ma'juj



Mereka berkata; “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya-juj dan Ma-juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka ?”

QS. Al-Anbiya: 96 “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata); “Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.”

Ya-juj dan Ma-juj dalam Hadits Dari Zainab Binti Jahsh -isteri Nabi SAW, berkata; “Nabi SAW bangun dari tidurnya dengan wajah memerah, kemudian bersabda; “Tiada Tuhan selain Allah, celakalah bagi Arab dari kejahatan yang telah dekat pada hari kiamat, (yaitu) Telah dibukanya penutup Ya-juj dan Ma-juj seperti ini !” beliau melingkarkan jari tangannya. (Dalam riwayat lain tangannya membentuk isyarat 70 atau 90), Aku bertanya; “Ya Rasulullah SAW, apakah kita akan dihancurkan walaupun ada orang-orang shalih ?” Beliau menjawab; “Ya, Jika banyak kejelekan.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)

Jenis dan Asal Usul Ya-juj dan Ma-juj dalam QS. Al-Kahfi : 94 Ya-juj dan Ma-juj menurut ahli lughah ada yang menyebut isim musytaq (memiliki akar kata dari bhs. Arab) berasal dari AJAJA AN-NAR artinya jilatan api. Atau dari AL-AJJAH (bercampur/sangat panas), al-Ajju (cepat bermusuhan), Al-Ijajah (air yang memancar keras) dengan wazan MAF’UL dan YAF’UL / FA’UL. Menurut Abu Hatim, Ma-juj berasal dari MAJA yaitu kekacauan. Ma-juj berasal dari Mu-juj yaitu Malaja. Namun, menurut pendapat yang shahih, Ya-juj dan Ma-juj bukan isim musytaq tapi merupakan isim ‘Ajam dan Laqab (julukan). Para ulama sepakat, bahwa Ya-juj dan Ma-juj termasuk spesies manusia.


Mereka berbeda dalam menentukan siapa nenek moyangnya. Ada yang menyebutkan dari sulbi Adam AS dan Hawa atau dari Adam AS saja. Ada pula yang menyebut dari sulbi Nabi Nuh AS dari keturunan Syis/At-Turk menurut hadits Ibnu Katsir. Sebagaimana dijelaskan dalam tarikh, Nabi Nuh AS mempunyai tiga anak, Sam, Ham, Syis/At-Turk. Ada lagi yang menyebut keturunan dari Yafuts Bin Nuh. Menurut Al-Maraghi, Ya-juj dan Ma-juj berasal dari satu ayah yaitu Turk, Ya-juj adalah At-Tatar (Tartar) dan Ma-juj adalah Al-Maghul (Mongol), namun keterangan ini tidak kuat. Mereka tinggal di Asia bagian Timur dan menguasai dari Tibet, China sampai Turkistan Barat dan Tamujin. Mereka dikenal sebagai Jengis Khan (berarti Raja Dunia) pada abad ke-7 H di Asia Tengah dan menaklukan Cina Timur. Ditaklukan oleh Quthbuddin Bin Armilan dari Raja Khuwarizmi yang diteruskan oleh anaknya Aqthay. “Batu” anak saudaranya menukar dengan negara Rusia tahun 723 H dan menghancurkan Babilon dan Hongaria. Kemudian digantikan Jaluk dan dijajah Romawi dengan menggantikan anak saudaranya Manju, diganti saudaranya Kilay yang menaklukan Cina.

Saudaranya Hulako menundukan negara Islam dan menjatuhkan Bagdad pada masa daulah Abasia ketika dipimpin Khalifah Al-Mu’tashim Billah pertengahan abad ke-7 H / 656 H. Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang banyak keturunannya.Menurut mitos, mereka tidak mati sebelum melihat seribu anak lelakinya membawa senjata. Mereka taat pada peraturan masyarakat, adab dan pemimpinnya. Ada yang menyebut mereka berperawakan sangat tinggi sampai beberapa meter dan ada yang sangat pendek sampai beberapa centimeter. Konon, telinga mereka panjang, tapi ini tidak berdasar. Pada QS. Al-Kahfi:94, Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang kasar dan biadab.

Jika mereka melewati perkampungan, membabad semua yang menghalangi dan merusak atau bila perlu membunuh penduduk. Karenya, ketika Dzulkarnain datang, mereka minta dibuatkan benteng agar mereka tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk. Siapakah Dzulkarnain ? Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar Bin Philips Al-Maqduny Al-Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir.

Menurut Asy-Syaukany, pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan ia seorang kafir dan filosof. Sedangkan al-Quran menyebutkan; “Kami (Allah) mengokohkannya di bumi dan Kami memberikan kepadanya sebab segala sesuatu.” Menurut sejarawan muslim Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM – 552 M.).

Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shalih.

Ia seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara Armenia dan Azzarbaijan. Atas permintaan penduduk, Dzulkarnain membangun benteng. Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. “Babul Hadid” adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India.

BENARKAH TEMBOK CINA ADALAH TEMBOK Zulkarnain ?

Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Zulkarnain dalam surat Al Kahfi. Dan yang disebut Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al Kahfi ayat 95-98 tentang itu.

Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.

Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Zulkarnain. Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi. Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dst. Sambung-menyambung. Ketiga, dalam Al Kahfi ayat 86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah berfirman,


“Wahai Zulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu atau engkau berikan kebaikan pada mereka.” Artinya, Zulkarnain mendapat wahyu langsung dari Tuhan, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al Kahfi. Jadi di manakan tembok Zulkarnain?

BEBERAPA PENELITIAN TEMBOK YA’JUJ

Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.
Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 m dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.


Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di perunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu tercantum pada peta-peta Islam mahupun Rusia, terletak di republik Georgia.

Al-Syarif al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi tembok penghalang yang dibangun Iskandar Dzul Qarnain untuk memenjarakan Ya’juj-Ma’juj terbuka.

Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu sallam ditemani 50 orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi, karya al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar untuk penelitian ini.

Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj.

27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Ya’juj-Ma’juj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Ya’juj-Ma’juj berada.

Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Ya’juj-Ma’juj. Di situ ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).

Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Ya’juj-Ma’juj itu.

Ya’juj-Ma’juj sendiri, menurut penuturan al-Syarif al-Idrisi dalam Nuzhat al-Musytaq, adalah dua suku keturunan Sam bin Nuh. Mereka sering mengganggu, menyerbu, membunuh, suku-suku lain. Mereka pembuat onar, dan sering menghancurkan suatu daerah. Masyarakat mengadukan kelakuan suku Ya’juj dan Ma’juj kepada Iskandar Dzul Qarnain, Raja Macedonia. Iskandar kemudian menggiring (mengusir) mereka ke sebuah pegunungan, lalu menutupnya dengan tembok dan pintu besi.

Menjelang Kiamat nanti, pintu itu akan jebol. Mereka keluar dan membuat onar dunia, sampai turunnya Nabi Isa al-Masih.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Ya’juj-Ma’juj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil. Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.

Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah pegunungan Ya’juj-Ma’juj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan al-Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.

Referensi:

Az-Zuhaily, Tafsir Al-Munir.

Dr. Thaha Ad-Dasuqy, ‘Aqidatuna Wa Shilatuha Bil Kaun Wal Insan Wal Hayat, Darul Huda, Kairo, 1995.

Syekh Sya’ban ‘Abdulhadi Abu Rabah, Islamiyat, Haqaiq Fi Dzilli Tauhid Al-Ara Al-Islamiyah, Muassasah Al-‘Arabiyah Al-Haditsiyah, Kairo, 1991.


 






Kamis, 29 November 2012

Matahari Akan Terbit dari Barat - Kajian Tafsir Hadits

 

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Bila tiga hal telah terjadi, maka iman sesorang tidak akan berguna lagi baginya, baik bagi orang yang belum pernah beriman sebelumnya maupun orang sebelumnya maupun orang yang telah melakukan kebajikan dalam keimanannya. Yaitu, terbitnya matahari dari barat, Dajjal, dan binatang melata.”

Tirmidzi dan Daruquthni meriwayatkan dari Safwan bin ‘Asaal al-Maradi bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya di barat ada sebuah pintu yang terbuka untuk tobat, jaraknya tujuh puluh tahun, pintu itu tidak akan ditutup sampai matahari terbit dari sana.” Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan sahih.

Sufyan mengatakan, “Allah menciptakan pada hari penciptaan langit dan bumi pintu yang terbuka untuk tobat di arah Syiria, dan ia tidak ditutup sampai matahari terbit dari sana.”

Abu Ishaak ats-Tsa’labi dan para ahli tafsir lainnya dalam sebuah hadits panjang menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. Bersabda, “Matahari akan ditahan dari manusia (tidak terbit) selama satu malam di bawah ‘Arasy bila kemaksiatan merajalela di muka bumi, kebaikan hilang, tidak ada satu pun yang menyeru kepada kebaikan, dan kemungkaran tersebar luas tanpa ada seorang pun yang mencegahnya.

Setiap kali matahari sujud kepada Allah dan minta izin dari mana ia akan terbit, ia tidak mendapatkan jawaban. Bahkan, bulan pun ikut sujud bersamanya, dan bulan minta izin dari mana ia akan muncul. Tetapi, keduanya tetap tidak mendapat jawaban. Sampai matahari ditahan selama tiga malam dan bulan ditahan selama dua malam, tidak ada yang tahu lamanya satu malam tersebut kecuali orang yang suka tahajjud di bumi, dan jumlah mereka di setiap negeri kaum muslimin sangat sedikit.

Ketika sudah mencapai tiga malam, Allah mengirim Malaikat Jibril kepada keduanya. Jibril berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi memerintahkan kalian untuk terbit dari barat, tanpa sinar dan cahaya.’ Lalu, keduanya terbit dari barat dalam keadaan hitam tanpa sinar dan cahaya seperti gerhana, sebagaimana firman Allah dalam surah al-Qiyaamah ayat 9, ‘Matahari dan bulan dikumpulkan’, dan surah at-Takwiir ayat 1, ‘Apabila matahari digulung.’

Keduanya terus meninggi dan saat sampai di pertengahan langit, Malaikat jibril lalu memegang tanduk keduanya dan mengembalikan keduanya ke arah barat. Keduanya tidak terbenam di tempat biasa terbenam. Akan tetapi, kali ini keduanya terbenam di pintu tobat.

Bila pintu tobat sudah ditutup, tobat siapa pun tak akan diterima, dan setiap kebajikan yang dilakukannya tidak lagi bermanfaat, kecuali bila ia berbuat hal itu sebelumnya. Itulah makna firman Allah surah al-An’aam ayat 158, ‘…tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.’

Setelah itu matahari dan bulan kembali mendapatkan sinar dan cahayanya. Keduanya kembali terbit dan terbenam di tempat biasanya.”

Al-Mayanisyi menyebutkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda, “Manusia masih hidup setelah terbitnya matahari dari barat, selama seratus dua puluh tahun.”

(Pasal 1)

Para ulama mengatakan bahwa iman seseorang tidak memberikan manfaat apa-apa kepadanya saat terbitnya matahari dari barat. Karena, ketakutan menyelimuti hatinya sehingga menyebabkan nafsu syahwat menjadi beku, dan kekuatan menjadi sirna. Kondisi manusia saat itu seperti orang yang sedang menghadapi kematian. Keinginan untuk berbuat maksiat tidak ada lagi, karena ia yakin kiamat akan segera tiba. Orang yang tobat pada saat seperti ini, tobatnya tidak akan diterima, sebagaimana tidak diterimanya tobat orang yang tengah mengalami sakaratul maut.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah masih akan menerima tobat seorang hamba sebelum nyawanya sampai di tenggorokan.” Yaitu, saat nyawa sudah sampai di ujung tenggorokan, saat di mana ia bisa melihat tempatnya di surga atau di neraka, maka kondisi manusia saat terbitnya matahari dari barat juga demikian.

Karena itu, seharusnya setiap orang yang mengetahui hal ini, selalu memperbaharui tobatnya sepanjang hidup. Karena pengenalan terhadap Allah dan Nabi saw serta mengetahui janji-Nya, sudah menjadi suatu kewajiban yang bersifat darurat.

Bila umur dunia semakin tua hingga manusia lupa masalah besar ini, hingga tidak ada lagi yang membicarakannya kecuali sedikit sekali, dan berita ini hanya diketahui oleh orang tertentu saja, maka bagi orang yang masuk Islam pada saat-saat tersebut ataupun bertobat, tobatnya akan diterima.

Ada yang mengatakan bahwa hikmah dari terbitnya matahari dari barat adalah karena Nabi Ibrahim pernah mengatakan kepada Namrud,

“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu heran terdiamlah orang kafir itu.” (QS. Al-Baqarah : 258)

Orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah dan para ahli perbintangan mengatakan bahwa hal ini mustahil dan tak mungkin terjadi. Karena itu, Allah menerbitkan matahari dari barat untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada orang-orang yang mengingkari hal tersebut. Allah bisa menerbitkannya dari timur ataupun dari barat sesuai kehendak-Nya.

Sebab itu, bisa jadi tobat dan keimanan yang ditolak adalah keimanan dan tobatnya orang-orang yang mengingkari hal tersebut dan orang-orang yang mendustakan berita yang disampaikan Rasulullah. Adapun bagi yang membenarkannya, maka tobatnya akan tetap diterima dan imannya akan memberi manfaat baginya sebelum kejadian itu.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Tidak diterima suatu amalan atau tobatnya orang kafir jika ia masuk Islam saat ia melihatnya (matahari terbit dari barat), kecuali jika ia masih kecil saat itu. Atau, bila beberapa waktu kemudian ia masuk Islam, keimanannya akan tetap diterima. Atau, orang beriman tapi berbuat dosa, tobatnya akan diterima.”

(Pasal 2)

Ada beberapa perbedaan riwayat tentang tanda-tanda yang pertama muncul. Ada yang meriwayatkan bahwa terbitnya matahari adalah tanda pertama, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim. Ada juga yang mengatakan bahwa keluarnya Dajjal adalah tanda pertama. Pendapat kedua inilah yang lebih kuat, berdasarkan sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Dajjal akan keluar kepada kalian, dan itu adalah pasti.”

Kalau matahari terbit dari barat sebelum munculnya Dajjal, maka keimanan orang Yahudi tidak akan ada gunanya pada saat turunnya isa. Dan, bila itu yang terjadi, maka Islam tidak menjadi satu-satunya agama yang dianut.

Sumber :





Judul Asli        : At-Tadzkirat Bi Ahwali al-Mauta wa Umur al-Akhirat

Penulis             : Imam Al-Qurthubi
Penerjemah      : Abdur Rosyad Shiddiq
Penerbit           : Akbar Media - Khazanah Buku Islam Rujukan


Demikianlah yg saya kutip dari buku ini, semoga bermanfaat buat kita semua... Mari sahabatku skalian, perbanyak taubat dan beramal shalih..

Oleh karenanya, saudaraku yang tercinta
Pintu taubat ada di hadapanmu terbuka lebar, ia menanti kedatanganmu…
Jalan kaum yang bertaubat telah dihamparkan, …
Ia merindukan pijakan kakimu…
Maka ketuklah pintunya dan tempuhlah jalannya. Mintalah taufik dan pertolongan kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya Dia Maha mengampuni kesalahan hamba-hamba yang benar-benar bertaubat kepada-Nya” (QS. Al Israa’ : 25). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Dzat Yang Maha pengampun lagi Maha penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan” (QS. Az Zumar : 53-54)

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana” (QS. An Nuur : 10). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya” (QS. An Najm  : 32). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu” (QS. Al A’raaf : 156)




Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, jiwa dan harta mereka, bahwasanya mereka kelak akan mendapatkan surga...

"Komunitas Bloggers Mengadakan Online Gathering dan Diskusi dengan Tema Melestarikan Hutan Lewat Adopsi Hutan"

Ada yang menarik tanggal 2 Oktober 2020 kemarin. Komunitas Bloggers menyelenggarakan Online Gathering dan diskusi menarik mengen...