Rabu, 04 Mei 2011

Misteri Hajar Aswad


Hajar Aswad berasal dari bahasa Arab yang berarti (batu Hitam), walupun asal-usunya bukan berwarna hitam. Menurut banyak keterangan hadi, warna hitam itu di akibatkan dari lumuran dosa-dosa anak Adam yang setiap saat menyentuh, mencium, mengecupnya. Sejak Zaman jahiliyah klasik, hingga modern, Hajar Aswad itu tetap sacral, dan ditunggui oleh para Malaikat yang tidak terlihat. Setiap do’a yang dipanjatkan, sang malaikat senantiasa meng-amininya. Wajar sajalah, jika masih banyak jama’ah haji dan Umrah yang datang dari antero dunia yang berebut mencium dan mengeup hajar Aswad. Konon, batu yang melekat di sudut rumah Allah yang sacral itu berasal dari surga, yang kelak akan kembali pada surga.

Masih berbicara seiputar Hajar Aswad, seorang ilmuan barat yang yeng dikenal dengan nama Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Makah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian, bukan sekedar hiphotesa, atau teks-teks sejarah klasik.Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, di berkata : “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya astronot (bukan Neil Armstrong) telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada asalan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.

Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Makkah, tepatnya bersumber dari Ka’bah (rumah Allah). Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite (tidak berujung), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat. Memang tidak dipungkiri, karena asal batu (hajar Aswad) dari surga. Begitu juga sumber (mata Air) yang mengalir dari sudut rumah Allah (Air zam-zam)

Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Makkah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Ka’bah) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita. Sebagaimana pernah disampaikan oleh pakar sejarah. Ketika Hajar Aswad diambil (tebus) Al-Mutii’ Al-Abbasi, beliau ngetes keaslianya dengan membakarnya, serta memasukkan kedalam air. Alhasil, batu itu tidak terbakar dan juga tidak tenggelam. Dan ini merupakan tanda keaslian batu mutiara dari surga. Hajar Aswad merupakan jenis batu ‘RUBY (yakut)‘ yang diturunkan Allah dari surga melalui malaikat Jibril. Dengan kata lain, batu ini paling tua sepanjang sejarah kehidupan manusia

Selasa, 03 Mei 2011

Info Seminar Nasional 2011


Ikuti dan Hadirilah.. Seminar Nasional "The Super Leader, The Super Manager, The Super Entrepeneur"

Hari/Tanggal : Ahad, 15 Mei 2011
Tempat : Baruga AP. Pettarani Unhas, Makassar
Waktu : Pukul 07.00 WITA - selesai

Narasumber :
1. H.Muh.Yusuf Kalla (Tokoh Nasional, Pengusaha Nasional )
2. Prof.Halide (Tokoh Ekonomi Islam Indonesia, Guru Besar Universitas Hasanuddin)
3. Amran Sulaiman (CEO TIRAN GROUP, Pemilik 9 perusahaan, memimpin 9 organisasi)
4. Sulfikar bin Makkateru (CEO MSC EC INDONESIA, Dirut PM. Mitra Mudharib Syariah)
Dirangkaikan dengan Launching Program Indonesia Tersenyum Menyambut 2600 Lapangan Pekerjaan Setiap Tahun

Door Price:
1. Lisensi mendirikan perusahaan mudharib senilai Rp 150.000.000,- atau Motor Jupiter MX keluaran Terbaru
2. Satu set Buku Ensiklopedia Leadership dan Manajemen Muhammad SAW "The Super Leader, The Super Manager" senilai Rp 3.125.000,- dll
Harga Tiket : Rp 50.000

Diskon Harga Tiket:
Pendaftaran 30-10 hari sebelum hari H : diskon 70%
Pendaftaran antara 9-1 hari sebelum hari H : diskon 50%

Contact Person (Ticket) : Aswar (081342058817)
Call center : (0411) 911 6750
Fundrising : Muh.Nur.Ilman (085242448930)

Penyelenggara : MSC-EC Indonesia
Didukung oleh : PM Mitra Mudharib Syariah, Maraja Ilmu, Angkasa Media

Rabu, 27 April 2011

Muhasabah Diri


Sejenak mari kita berdiam, merenung, mengingat waktu yang telah kita gunakan, dan proses yang telah kita lakukan serta hasil yang telah kita raih selama ini. Adakah titik-titik kelemahan atau garis ketidakpuasan di dalamnya? Pasti ada…. It’s human.

Manusia memang dilahirkan bukan seperti malaikat yang terbuat dari cahaya, juga bukan seperti iblis yang terbuat dari api. Manusia terdiri dari elemen-elemen kehidupan. Manusia mempunyai sisi baik dan buruk, serta nafsu baik dan buruk.

Coba lihat diri kita. Ketika kita ‘bercermin’, apakah sosok ini telah benar-benar layak disebut manusia, hamba Tuhan yang baik dan benar? Jika belum, mengapa?

Dan setiap hati akan bisa menjawabnya asalkan ia jujur, bersih, dan mau mengakui kesalahan yang pernah ia lakukan.

“Tuhanku, hamba takut jika kehadiran hamba di dunia ini tidak seperti apa yang Engkau inginkan. Hamba takut jika hamba belum sepenuhnya patuh pada perintahMu. Hamba takut jika pujian manusia adalah pujian yang menyesatkan bagi hamba, sehingga hamba lalai dan sulit berintrospeksi diri. Hamba takut Engkau tidak bersama hamba. Hamba takut jika hati dan pikiran serta niat hamba tak sepenuhnya ikhlas hanya untukMu.

Dunia ini dan seluruh isinya yang ku anggap kepunyaanku, sesungguhnya tiada arti tanpa ridho dan kasih sayangMu.

Ya Tuhanku, Ya Rabbi.. hamba mohon bersihkan jiwa hambaMu ini yang penuh dosa, yang penuh amarah serta kekhilafan. Jika hamba masih diberi waktu, perkenankan hamba untuk memeperbaiki kesalahan yang telah lalu, mensyukuri nikmat dan karuniaMu, melakukan apa yang menjadi perintahMu dan menjalani karunia terbesar ini dengan sebaik-baiknya.”

Semua ini tak berarah jika kita tak punya benang tujuan. Titik-titik adalah hari-hari kita yang akan membentuk sebuah garis menuju tujuan yang sesungguhnya. Untuk apa kita ada disini? Dan kemana kita harus kembali?

Bismillahirrahmanirrahim, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..

Let’s learn by doing something.

Sumber : http://agama.kompasiana.com

Senin, 25 April 2011

Di Dunia Ini Banyak Jalan Hidup



Berawal dari alam rohani, kita ditanya oleh Tuhan yang maha absolut (maha ada, maha segalanya) “Bukankah Aku Tuhanmu?”, kita menjawab “Benar, Engkaulah Tuhan kami, kami bersaksi” (QS. Al-A’raaf: 172). Kemudian Allah memberikan kita kehidupan dengan berbagai nikmat di dalamnya.

Berbicara tentang kehidupan, hidup ini merupakan suatu kenikmatan yang besar, kehidupan adalah keindahan yang luar biasa. Allah, sebagai Pencipta mesin alam semesta yang maha rumit ini, telah menetapkan ketentuan-ketentuan kehidupan (seandainya mesin alam semesta ini adalah sebuah program komputer, Allah telah membuat kode-kode program sangat sempurna) yang disebut sebagai sunnatullah. Misalnya, Allah telah menetapkan bahwa bumi memiliki gaya tarik yang disebut gaya gravitasi, semua yang ada di bumi akan tertarik ke bawah (ya, kalo kita jatuh dari ketinggian 2 meter, kemungkinan kaki kita bisa patah). Contoh lain sunnatullah adalah; bila berbohong, tidak dipercaya orang; bila belajar, menjadi pandai; bila ramah, disenangi banyak orang; dlsb.

Dalam hidup ini, manusia bebas memilih sunnatullah mana yang mau dijalaninya, apakah dia mau memilih berbohong atau jujur, apakah mau memilih jadi pandai atau bodoh. Semua adalah pilihan. Oleh karena itu, Allah mengutus Rasulullah dan menurunkan Al-Quran kepadanya agar manusia dapat memilih jalan hidup yang baik dan benar.

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang paling disayang oleh Allah, sehingga bila manusia mentauhidkan Allah, maka Allah akan memberikan petunjuk padanya melalui hatinya. Petunjuk Allah dapat terdengar oleh hati manusia yang MAU senantiasa MENGAKUI bahwa Allah adalah TUHANnya. Petunjuk yang Allah berikan dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan hidupnya. Petunjuk yang diterima melalui hati nurani, dapat dipakai untuk memahami makna ayat-ayat Al-Quran. (QS. An-Nahl: 2)

Maka dari itu, jalanilah hidup ini dengan selalu mentauhidkan Allah agar kita mendapat petunjuk dalam memilih sunnatullah yang akan kita jalani.

Sumber : http://zulkarnaen.wordpress.com

Sabtu, 23 April 2011

Teknik Meresensi Buku


Beruntung orang yang suka membaca buku. Mereka yang gemar membaca buku akan terbuka wawasannya, tidak kuper dan cupet pandangan. Mereka juga akan mengerti informasi selain yang dipikirkannya selama ini, referensi dan pengetahuannya akan bertambah luas. Dan inilah sebenarnya investasi berharga sebagai modal untuk mengarungi kehidupannya. Orang yang menyukai aktivitas membaca, hasilnya, mereka tidak akan berpikir sempit ketika menghadapi problem-problem penting yang terjadi di dunia. Serta punya potensi dan kecenderungan yang bijak dalam mensikapi kejadian-kejadian keseharian di sekitarnya. Tapi, bagi orang yang ingin berbuat lebih dan mau berbagi ilmu kepada orang lain, membaca saja tak cukup. Mereka perlu memiliki keterampilan lagi yaitu ketrampilan meresensi buku. Sebelum melangkah kepada teknik ringkas meresensi buku, ada beberapa hal penting mengapa resensi perlu dibuat. Tujuannya, diantaranya sebagai berikut,

Membantu pembaca (publik) yang belum berkesempatan membaca buku yang dimaksud atau membantu mereka yang memang tidak punya waktu membaca buku. Dengan adanya resensi, pembaca setidaknya bisa mengetahui gambaran dan penilaian umum terhadap buku tertentu. Setidaknya, bisa dijadikan bahan obrolan yang bermanfaat dari pada menggosip yang tidak jelas juntrungnya.

Mengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang diresensi. Dengan begitu, pembaca bisa belajar bagaimana semestinya membuat buku yang baik itu. Memang, peresensi bisa saja sangat subjektif dalam menilai buku. Tapi, bagaimanapun juga tetap akan punya manfaat (terutama kalau dipublikasikan di media cetak, karena telah melewati seleksi redaktur).

Mengetahui latarbelakang dan alasan buku tersebut diterbitkan. Sisi Undercovernya. Kalaupun tidak bisa mendapkan informasi yang demikian, peresensi juga tetap bisa mengandalkan misalnya mengacu pada halaman pengantar atau prolog yang biasanya terdapat dalam sebuah buku. Kalau tidak, informasi dari pemberitaan media tak jadi soal.

Mengetahui perbandingan buku yang telah dihasilkan penulis yang sama atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Peresensi yang punya “jam terbang” tinggi, biasanya tidak melulu melulu mengulas isi buku apa adanya. Biasanya, mereka juga menghadirkan karya-karya sebelumnya yang telah ditulis oleh pengarang buku tersebut, kalau tidak, biasanya juga menghadirkan buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Hal ini tentu akan lebih memperkaya wawasan pembaca nantinya.

Bagi penulis buku yang diresensi, bisa sebagai masukan berharga bagi proses kreatif kepenulisan selanjutnya karena tak jarang peresensi memberikan kritik yang tajam baik itu dari segi cara dan gaya kepenulisan maupun isi dan substansi bukunya. Sedangkan, bagi penerbit bisa dijadikan wahana koreksi karena biasanya peresensi juga menyoroti soal font (jenis huruf) mutu cetakan dsb.

Nah, untuk bisa meresensi buku, sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan sebagian orang. Ada beberapa langkah umum yang bisa dilakukan siapa saja yang akan membuat resensi buku. Diantaranya;

Tahap Persiapan

Memilih jenis buku : Tentu setiap orang mempunyai hobi dan minat tertentu pada sebuah buku. Pada proses pemilihan ini akan lebih baik kalau kita fokus untuk meresensi buku-buku tertentu yang menjadi minat atau sesuai dengan latarbelakang pendidikan kita. (hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa seseorang tidak mungkin menguasai berbagai macam bidang sekaligus). Ini terkait dengan ” otoritas ilmiah”. Hal ini tidak berarti membatasi tau melarang-larang orang untuk meresensi buku. Tapi, hanya soal siapa berbicara apa. Seorang guru tentu lebih paham bagaimana cara mengajar siswa dibandingkan seorang tukang sayur.

Usahakan buku baru. Ini jika karya resensi akan dipublikasikan di media cetak. Buku-buku yang sudah lama tentu kecil kemungkinan akan termuat karena dinilai sudah basi dengan asumsi sudah banyak yang membacanya sehingga tidak mengundang rasa penasaran. Untuk buku-buku lama (yang diniatkan sekedar untuk berbagi ilmu) tetap bisa diresensi dan dipublikasikan misalnya lewat blog (jurnal personal).

Membuat anatomi buku. Yaitu informasi awal mengenai buku yang akan diresensi. Contoh formatnya sebagai berikut;

Judul Karya Resensi

Judul Buku :
Penulis :
Penerbit :
Harga :
Tebal :

Tahap Pengerjaan

Membaca dengan detail dan mencatat hal-hal penting. Ini yang membedakan antara pembaca biasa dan peresensi buku. Bagi pembaca biasa, membaca bisa sambil lalu dan boleh menghentikan kapan saja. Bagi seorang peresensi, mesti membaca buku sampai tuntas agar bisa mendapatkan informasi buku secara menyeluruh. Begitu juga mencatat kutipan dan pemikiran yang dirasa penting yang terdapat dalam buku tersebut.

Setelah membaca, mulai menuliskan karya resensi buku yang dimaksud. Dalam karya resensi tersebut, setidaknya mengandung beberapa hal;

Informasi awal buku (seperti format diatas).
Tentukan judul yang menarik dan “provokatif”
Membuat ulasan singkat buku. Diskripsi garis besar isi buku.
Memberikan penilaian buku. (substansi isinya maupun cover dan cetakan fisiknya) atau membandingkan dengan buku lain. Inilah sesungguhnya fungsi utama seorang peresensi yaitu sebagai kritikus sehingga bisa membantu publik menilai sebuah buku.
Menonjolkan sisi yang beda atas buku yang diresensi dengan buku lainnya.
Mengulas manfaat buku tersebut bagi pembaca.
Mengkoreksi karya resensi. Mengkoreksi kelengkapan karya, EYD dan sistematika jalan pikiran resensi yang telah dihasilkan. Yang terpenting tentu bukan isi buku itu apa, tapi apa sikap penilaian peresensi terhadap buku tersebut.

Tahap Publikasi

Karya disesuaikan dengan ruang media yang akan kita kirimi resensi. Setiap media berbeda-beda panjang dan pendeknya. Mengikuti syarat jumlah halaman dari media yang bersangkutan adalah sebuah langkah yang aman bagi peresensi.
Menyertakan cover halaman depan buku.
Mengirimkan karya sesuai dengan jenis buku-buku yang resensinya telah diterbitkan sebelumnya. Peresensi perlu menengok dan memahami buku jenis apa yang sering dimuat pada sebuah media tertentu. Hal ini untuk menghindari penolakan karya kita oleh redaktur.

Demikian ulasan sekilas mengenai teknik sederhana meresensi buku. Pada intinya, persoalan meresensi buku adalah soal berbagi (ilmu). Setelah membaca buku, biasanya kita bahagia karena memperoleh wawasan baru. Dengan begitu urusan meresensi buku juga bisa berarti kita berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Sungguh mulia bukan !.

Sumber : http://www.menulisyuk.com

Senin, 18 April 2011

Ketika Harapan Tak Sesuai Kenyataan Kita


”Saat kenyataan di luar keinginan”

Seringkali kita merasa bahwa hidup ini tidak adil, ketidakadilan ini bermula saat kenyataan yg kita hadapi tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita.

Keinginan lahir dari cita-cita atau bisa juga merupakan rencana hidup kita seperti visi dan misi hidup, dan kenyataan merupakan sesuatu yg kita alami, harus dihadapi, tidak bisa dihindarkan dan diabaikan.

Kenyataan yg pahit , terasa begitu nyata seperti gunung es tatkala kita berada di atas kapal laut yg tak terhindarkan harus menabrak, seberapa piawainyapun sang nakhoda... Dan seseorang merasa hidup ini lebih tidak adil saat ikhtiar dan doa pun sudah dipanjatkan beriringan dengan kepasrahan mendalam.

Kekecewaan bertumpuk-tumpuk, seperti awan kelam yg menggulung tatkala akan hujan deras membawa banjir dan longsor. Sebelum menghadapinyapun kita sudah takut, karena imajinasi kita tentang kekelaman yg kita akan hadapi sudah tertancap dalam pikiran, oh hari esok rasanya berat, oh entah kepahitan apa lagi yg akan menjemput jiwa. Dan benarlah saatnya tiba kita begitu rapuh, lemah, terkulai, kesesakan tatkala bangun pagi menjadi rutinnya kehidupan.

Saat-saat seperti itu yg menguatkan saya adalah perkataan Allah SWT dalam Al-Baqarah ayat 216, bahwa sesuatu yg terasa tidak baik atau kita membencinya, bisa jadi itu adalah hal yg baik untuk kita dan sebaliknya bila kita merasa sesuatu itu baik untuk kita bisa jadi amat buruk untuk kita, karena hanya Allah SWT yg Maha Mengetahui.

Untuk beberapa individu memang hal ini terasa klise, tapi memang setelah dijalani inilah kenyataannya. Kita tidak akan pernah mengetahui sesuatu itu baik atau buruk disaat kita belum melalui nya dan merasakan hikmah atau arti sesungguh nya dari yg kita alami.

Saat sekarang ini akan terasa mudah untuk mengatakan bahwa orang lain tidak akan pernah mengerti apa yg kita rasakan dan mereka hanya bisa memberikan justifikasi terhadap kenyataan pahit hidup yg kita alami, memang lebih mudah untuk menghindari nasihat2 yg terasa menghakimi dibandingkan dengan berkontemplasi atau merenung sejenak apakah memang nasihat itu merupakan solusi untuk masalah kita. Lingkaran setan ini yg terus mengelilingi kita disaat hidup terasa begitu pahit, yaitu kita mendapatkan kenyataan tidak sesuai dengan keinginan/pengharapan lalu dengan mudahnya kita menepis pertolongan orang dan menjauh dari sang Khalik.

Percaya atau tidak, bahwa di hidup ini ada mukjizat, sesuatu yg dikira atau dinalar tidak masuk akal namun terjadi. Terkadang hal ini terjadi di saat kita merasa sudah lelah bergulat dengan hidup, namun kita masih memiliki secercah harapan kepada Allah SWT, disaat kita merasa tidak ada lagi orang yg perduli terhadap kegetiran hidup yg kita alami, namun kita masih bisa bersabar untuk mendapatkan bantuan Allah, La-Haula Walla Quwata Illa Billahil Alliyil Adzim, tiada pertolongan dan daya upaya yg datang selain dari Allah. Kita jangan takut akan suatu masalah tapi kita harus takut jika kita tidak mendapatkan pertolongan dari Allah SWT dalam mengahadapi masalah.

Saat masalah dirasa telah menggunung, dan terlihat seolah tidak mungkin ada jalan keluarnya. Mulai berbaik sangkalah kepada Allah SWT bahwa semua ini diciptakan berpasang-pasangan. Ujung pelangi memiliki ujung pelangi yg lain, embun pagi terasa indah bila dipasangkan dengan pagi hari begitu juga dengan kesedihan dipasangkan dengan kebahagiaan, ini sudah merupakan janji Allah SWT.

Begitu juga dengan masalah, memang Allah pasangkan dengan doa, karena bila ditilik lebih jauh doa itu erat kaitannya dengan sabar dan sholat. Di dalam kesabarannya dalam menghadapi cobaan dan ujian, seseorang selalu memanjatkan doa nya kepada Allah SWT. Bentuk doa yg paling hakiki ialah sholat, yg di dalamnya terdapat ribuan bentuk zikir atau mengingat Allah SWT.

Disayangkan banyak orang yg menganggap remeh kekutan dari doa, doa itu sangat dahsyat, doa merupakan bentuk kepasrahan dati diri manusia di hadapanNya, doa merupakan komunikasi langsung yg mendekatkan jarak antara hamba dengan PenciptaNya, doa merupakan bentuk pinta dari kita terhadap Yang Maha Dipinta.

Manusia seringkali merasa sibuk atau mungkin disibukkan dengan logika berpikir rasional nya, bahwa doa itu hanya pelengkap dari usaha kita, doa merupakan hal yg tidak masuk di akal bila dilihat dari kemampunannya menyelesaikan masalah.

Bila dihayati doa itu terasa nikmat bila dikemas dengan kepercayaan yg mendalam terhadap kekuatan dari doa, Allah SWT begitu menyukai hambaNya yg berdoa di setiap saat nya, hanya untuk meminta ditunjukkan bus mana yg seharusnya diambil untuk menghindari macet sampai ke doa pilihan pasangan hidupnya. Karena memang selayaknya itulah posisi pentingnya Allah SWT dalam kehidupan kita.

Setelah tangisan terasa sudah mengering, saat terasa keinginan untuk mengakhiri hidup sudah mengkungkung, ingatlah bahwa daun yg jatuh saja itu atas ijin Allah SWT, apalagi insan manusia yg dijadikanNya khalifah di muka bumi ini, pasti telah diatur skenario hidupnya. Wajar memang bila kesedihan mendera kita yg amat sangat, namun apakah kita pernah meminta untuk”dipeluk”oleh Allah SWT dalam rintihan doa-doa kita, dipeluk oleh lindungan dan pertolonganNya untuk menghindari keputusasaan yg sering menghampiri kita?

Terkadang kita merasa “pelukan” yg berarti & bisa dirasakan hanya datang dari manusia, sedangkan ”pelukan”yg terasa memeluk kita dari perbuatan keputusasaan, yg begitu tulus dan tidak minta untuk “dipeluk” kembali hanya pelukan dari Allah SWT, dan yg harus kita lakukan untuk mendapatkan pelukan yg tulus dan begitu menghangatkan jiwa, hanyalah memintanya lewat doa-doa dan tangisan rintihan kita memohon pelukanNya, hanya itu...

Sehingga semoga secercah pemikiran dan pengalaman di atas bisa menumbuhkan perasaan bahwa kepedihan hidup dialami semua orang, bahwa kita tidak sendirian, kenyataan tidak sesuai dengan keinginan adalah hal yg wajar kita alami, kebersamaan dan berbagi rasa semoga bisa menjadi solusi untuk menghadapi kesedihan, bukan berlarut dengannya.

Optimisme harus kita kobarkan dalam jiwa, yg terkadang meredup oleh kerasnya badai, dan pondasi optimisme itu kita tancapkan pada keyakinan bahwa Allah selalu bersama kita, bantuannya akan selalu datang pada mereka yg meminta.

Sumber : http://depsina.multiply.com

Minggu, 17 April 2011

Lomba Esai-Narasi Pendidikan Kritis 2011

Smart think | Jumat, 15 April 2011
Forum Nasional Pendidikan Kritis-Alternatif

Mempersembahkan

LOMBA ESAI-NARASI PENDIDIKAN KRITIS 2011

Preambule

Sebagai gerbang masa depan Indonesia yang lebih baik, pendidikan sering diabai, sering tak dilakukan dengan dedikasi profesionalisme tinggi. Hanya sebatas mengajar 'apa adanya', tak lebih, hanya menggugurkan pelaksanaan kurikulum. Ini bisa disimpulkan melihat prestasi anak negeri yang masih bisa dihitung dengan jari, kondisi politik-ekonomi-sosial-budaya yang tak mencerminkan pelakunya berpendidikan tinggi, tak menjunjung nilai-nilai moralitas-universal. Semua semakin karut marut.

Karut marut pendidikan selama ini bisa kita lihat dari filosofi pendidikan yang membebankan peserta didik layaknya mesin, target kurikulum yang tak berpihak pada kemampuan dan kemajemukan daya peserta didik, pelaksanaan proses pendidikan yang menggunakan kekerasan dan segala anasir subversif, guru tidak kreatif, kaku, tidak menyenangkan. Dan anehnya semua itu seperti sengaja dikekalkan oleh pemerintah. Hal tersebut dikarenakan pemerintah tak serius mengubah arah pendidikan menjadi lebih baik, hanya mengandalkan politik anggaran pendidikan 20 persen saja. Itu tidak cukup.

Lalu, bisakah ini dibebankan pada proses pendidikan yang ternyata telah gagal? Pendidikan adalah ujung tombak perubahan sebuah negeri. Hal ini bisa dilihat dari kejatuhan Jepang setelah dijatuhi bom atom di Hirosima dan Nagasaki, tapi kejatuhan itu segera dibangunnya kembali melalui pendidikan. Dan saatnya kita mempersembahkan semua daya pikir kita untuk negeri.

Untuk itu, dalam menyambut Hari Pendidikan Nasional bertepatan dengan pelaksanaan seminar nasional oleh Forum Nasional Pendidikan Alternatif bertajuk “Pendidikan Humanis Hari Ini”, panitia pelaksana (panpel) memberi kesempatan bagi mahasiswa dan guru untuk berkarya memberi sumbang pemikiran kritis idealis dan solutif dalam rangka ‘memanusiakan manusia’ secara tertulis dalam Lomba Esai-Narasi Nasional 2011.

Pelaksana
FORUM NASIONAL PENDIDIKAN KRITIS-ALTERNATIF

Waktu pelaksanaan
22 Maret – 22 Mei 2011

Tema
PELAKSANAAN PENDIDIKAN ALTERNATIF

Sub tema
1. Pendidikan dilematis
2. Belajar itu asik
3. Berbenah dari kelas
4. Antara guru, fasilitator, dan orang tua

Alamat mengirim
Naskah dikirim ke narasi.ep@gmail.com

Peserta
1. Mahasiswa
2. Guru

Penilaian
1. Orisinalitas;
2. Gaya bahasa; dan
3. Ketepatan analisa.

Pengumuman kepesertaan (berdasarkan naskah masuk) :
Pertama 5 April 2011
Kedua 3 Mei 2011
Ketiga 22 Mei 2011 (Hari terakhir pengiriman naskah, pukul 24.00 WIB)

Pengumuman pemenang
24 Mei 2011

Ketentuan-ketentuan
1. Naskah boleh berbentuk narasi atau esai.
2. Naskah tidak pernah dipublikasikan di media cetak maupun elektronik.
3. Naskah ditulis di atas kertas ukuran A4, margin normal, 1 spasi, minimal 5 halaman, disertai fotenote / daftar pustaka bila terdapat rujukan atau kutipan.
4. 1 orang peserta hanya mengirim maksimal 2 naskah.
5. Naskah fokus pada sub tema, tidak bercabang.
6. Halaman akhir naskah dilengkapi dengan data pribadi ( nama, alamat, usia, tempat kuliah, tempat mengajar, no HP / kontak, email, dan no rekening -pribadi atau berwakil).
7. Setiap pengiriman naskah peserta melampirkan ettachment file scan KTP yang masih berlaku.
8. Setiap peserta diharuskan menulis isi pengumuman lomba ini di note FB masing-masing dengan men-tag 25 teman termasuk akun FB panitia (sebelumnya add forum.pendidikan@ymail.com).
9. Kepesertaan gugur bila tidak sesuai ketentuan naskah.
10. Naskah yang masuk menjadi milik panitia.
11. Hanya pemenang yang akan dihubungi panitia via email / telepon dan hadiah dikirim ke no rekening pemenang.
12. Keputusan panitia adalah kuat dan tidak dapat diganggu gugat.

Hadiah*
Kategori mahasiswa
Penerima penghargaan pertama Rp. 6.000.000;
Penerima penghargaan kedua Rp. 3.000.000;
Penerima penghargaan ketiga Rp. 1.500.000;

Kategori guru
Penerima penghargaan pertama Rp. 7.000.000;
Penerima penghargaan kedua Rp. 3.500.000;
Penerima penghargaan ketiga Rp. 2.000.000;


* Keterangan : Hadiah sudah termasuk pajak

Sumber : http:// enallifestyle.blogspot.com

"Komunitas Bloggers Mengadakan Online Gathering dan Diskusi dengan Tema Melestarikan Hutan Lewat Adopsi Hutan"

Ada yang menarik tanggal 2 Oktober 2020 kemarin. Komunitas Bloggers menyelenggarakan Online Gathering dan diskusi menarik mengen...