Tradisi Doa Bersama
06.09 | Author: Belajar Islam


Follow twitter: @kutipanhikmah

Ada seorang teman yang sekarang tinggal di Bandung sebagai kiai muda, curhat kepada saya melalui SMS, bahwa ada sekelompok aliran di daerahnya, ketika selesai shalat, mereka tidak mau berdoa bersama dengan dipandu seorang imam. Alasan mereka, hal itu tidak ada haditsnya dan termasuk bid'ah. Hal yang sama juga terjadi pada saya. Dalam sebuah diskusi tentang bid'ah dan tradisi, di Mushalla Nurul Hikmah, Perum Dalung Permai Denpasar, pada 22 Juli 2010 yang lalu, ada seorang Salafi yang berpendapat bahwa doa bersama itu bid'ah. Ketika salah seorang teman kami berdoa sebagai penutup acara, jamaah yang hadir semuanya mengucapkan amin sambil mengangkat kedua tangan mereka. Sementara laki-laki Salafi yang menolak doa bersama tersebut, tidak ikut amin dan tidak mengangkat kedua tangannya.

Pada dasarnya, kalau kita mengkaji ajaran Islam secara mendalam, akan kita dapati bahwa tradisi doa bersama, dimana salah seorang dari jamaah mengucapkan doa, sedangkan anggota jamaah lainnya membaca amin, merupakan tradisi Islami sejak generasi salaf yang saleh dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadits hasan Rasulullah Saw. bersabda: “Tidaklah berkumpul suatu kaum muslimin, lalu sebagian mereka berdoa, dan sebagian lainnya mengucapkan amin, kecuali Allah pasti mengabulkan doa mereka." (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu'jam al-Kabir, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak. Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai persyaratan Muslim. Al-Hafidz al-Haitsami berkata dalam Majma' az-Zawaid, para perawi hadits ini adalah para perawi hadits shahih, kecuali Ibn Lahi'ah, seorang yang haditsnya bernilai hasan."

Dalam hadits lain diterangkan: "Dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, berkata: "Rasulullah Saw. bersabda: "Orang yang berdoa dan orang yang membaca amin sama-sama memperoleh pahala." (HR. ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dengan sanad yang lemah).

Menurut al-Hafidz Ahmad bin ash-Shiddiq al- Ghumari dalam kitabnya al-Mudawi li ’llal al-Jami' ash-Shaghir wa Syarhai al-Munawi juz 4 halaman 43: “Kelemahan hadits ad-Dailami di atas dapat diperkuat dengan ayat al-Qur'an. Allah berfirman tentang kisah Nabi Musa As.: "Sesungguhnya telah diperkenankan doa kamu berdua, oleh karena itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus." (QS. Yunus ayat 89).

Dalam ayat di atas, Al-Qur’an menegaskan tentang dikabulkannya doa Nabi Musa As. dan Nabi Harun As. Padahal yang berdoa sebenarnya Nabi Musa As. sedangkan Nabi Harun As. hanya mengucapkan amin, sebagaimana diterangkan oleh para ulama ahli tafsir. Nabi Musa As. yang berdo’a dan Nabi Harun As. yang menngucapkan amin, dalam ayat tersebut sama-sama dikatakan do’a. Hal ini pada dasarnya menguatkan hadits di atas, bahwa orang yang berdo’a dan yang mengucapkan amin sama-sama mendapatkan pahala do’a. Mengenai doa Nabi Musa AS tersebut, telah dijelaskan dalam ayat berikut ini: "Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih." (QS. Yunus ayat 88)

Dalam hadits lain diterangkan: "Ya’la bin Syaddad berkata: "Ayahku bercerita kepadaku, sedangkan Ubadah bin ash-Shamit hadir membenarkannya: "Suatu ketika kami bersama Nabi Saw., Beliau Saw. berkata: "Apakah di antara kamu ada orang asing? (Maksudnya ahlul kitab)." Kami menjawab: "Tidak ada ya Rasululah." Lalu Rasul Saw. memerintahkan agar mengunci pintu. Kemudian bersabda: "Angkatlah tangan kalian dan ucapkan la ilaha illallah." Maka kami mengangkat tangan kami beberapa saat. Kemudian Rasul Saw. berkata; ”Ya Allah, Engkau telah mengutus aku membawa kalimat ini, dan Engkau janjikan surga padaku dengan kalimat tersebut, sedangkan Engkau tidak akan menyalahi janji.” Kemudian Rasul bersabda: "Bergembiralah, karena Allah telah mengampuni kalian." (HR. Al-lmam Ahmad dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Hafidz al-Mundziri, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan lain-lain)

Dalam hadits di atas Rasulullah Saw. memerintahkan para sahabat membaca kalimat tauhid (la ilaha illallah) bersama-sama. Lalu para sahabat pun mengucapkannya bersama-sama sambil mengangkat tangan mereka. Kemudian Rasulullah Saw. membacakan doa. Dengan demikian, dzikir bersama sebenarnya memiliki tuntunan dari hadits shahih ini.

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa tradisi doa bersama, dimana salah seorang di antara jamaah memimpin doa, sedangkan jamaah yang lain mengucapkan amin, baik hal tersebut didahului dengan dzikir bersama maupun tidak, pada dasamya memiliki dasar hadits yang kuat, dan bahkan merupakan tuntunan Al-Qur'an al-Karim sebagaimana yang terdapat dalam kisah Nabi Musa As. dan Nabi Harun As. Wallahu a'lam.



Semoga bermanfaat… Insya Allah ya sobat^^
Link ke posting ini

Kisah-kisah nabi banyak tertuang dalam Al-qur'an ataupun buku-buku sejarah tentang kisah-kisah nabi. Keberadaan kisah-kisah nabi tersebut tak lain adalah sebagai pelajaran bagi seluruh umat yang ada di dunia. Bagaimana harusnya bersikap, dan bagaimana menjadi manusia baik seutuhnya digambarkan melalui riwayat para nabi Allah.

Yang kemudian ditawarkan adalah memang pelajaran hidup. Bahwa kisah-kisah nabi tersebut ibarat petunjuk terselubung yang akan menuntun kita menuju tempat yang baik, yaitu Surga.

Hakikatnya, sekuat apapun upaya manusia, manusia tetaplah manusia, ia tidak bisa menyamai nabi. Manusia yang seringkali dihinggapi kesalahan dan dosa tidak sebanding dengan perilaku nabi yang tanpa cela. Jika sudah demikian, belajar dari kisah-kisah nabi kemudian perlahan menerapkannya meskipun tidak akan mungkin sempurna adalah hal paling sederhana yang bisa dilakukan manusia.

Percayalah, bahwa ketika Allah mengutus salah satu umat-Nya menjadi nabi, bukan dengan seketika dan tanpa alasan. Manusia itu pastilah berbeda dari manusia lainnya. Kesabaran dan keimanan yang dimiliki oleh manusia tersebut dapat dipastikan jauh di atas manusia pada umumnya. Kisah-kisah nabi yang terangkum dalam Al-qur'an pun sebagian besar menuliskan hal itu. Salah satunya adalah kisah Nabi Idris as.

Meskipun tidak terlalu banyak dibahas dalam Al-Quran, Namun, kisah kisah Nabi Idris ini tidak kalah menyimpan pelajaran hidup bagi manusia. Nabi Idris adalah keturunan keenam dari Nabi Adam yang mendapatkan hak kenabian dari Allah Swt. Menurut kitab tafsir, Nabi Idris hidup 1.000 tahun setelah meninggalnya Nabi Adam as.

Kisah-kisah Nabi Idris juga akan membuat kagum siapapun yang membaca atau mengetahuinya. Allah Swt. menganugerahi Nabi Idris as. dengan kepandaian dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti matematika dan astronomi. Nabi Idris as. juga diketahui sangat ahli dalam membuat alat-alat kebutuhan manusia.

Kepintaran yang dimiliki oleh Nabi Idris ini mewarnai kisah-kisah Nabi Idris selama hidupnya. Kepintaran Nabi Idris ini bisa jadi mungkin nanti akan menginspirasi kita untuk menjadi orang yang lebih pintar. Karena apapun yang terangkum dalam kisah-kisah nabi pasti selalu bisa menularkan hal-hal baik.

Kisah Nabi Idris - Datangnya Tamu untuk Nabi Idris
  
Tahukah kita bahwa kisah-kisah Nabi Idris ini menawarkan sesuatu hal yang unik? Bahwa keseharian Nabi Idris as. salah satunya diisi dengan menjahit. Ya, kenyataannya memang demikian. Seperti tercantum dalam riwayat Ibnu Abbas, yang mengatakan bahwa “Daud adalah seorang pembuat perisai, Adam seorang petani, Nuh seorang tukang kayu, Idris seorang penjahit dan Musa adalah penggembala.” (HR. al-Hakim). Kisah-kisah nabi Allah ternyata menggambarkan keseharian para nabi yang tidak jauh dengan kehidupan manusia.

Masih dalam rangkaian kisah-kisah Nabi Idris, diceritakan bahwa setiap kali beliau memasukkan jarum untuk menjahit pakaian,tidak pernah beliau luput dari mengucapkan tasbih. Nabi Idris as. juga merupakan sosok yang selalu berpuasa. Amal dan ibadahnya yang luar biasa,mengundang keinginan malaikat maut (Izrail) untuk berjumpa dengan beliau.

Atas izin Allah, Malaikat Izrail pun datang menemui Nabi Idris as. dalam sosok seorang laki-laki yang rupawan. Tanpa mengetahui sosok asli yang menjadi temannya ini, Nabi Idris as. mengajak malaikat untuk melakukan perjalanan mengelilingi alam sekitar. Kisah-kisah Nabi Idris memang penuh dengan cerita menarik.

Dalam kisah-kisah Nabi Idris diceritakan bahwa tak terasa, sudah empat hari mereka bersiar-siar bersama dan menjadi sahabat. Nabi Idris menemukan kejanggalan pada diri temannya itu. Beliau merasa, tingkah laku temannya ini amat berbeda dengan sifat-sifat manusia biasa. Akhirnya, beliau pun tidak dapat menahan hasrat ingin tahunya. Lalu, terjadilah percakapan ini:

Nabi Idris as: “Wahai tuan, bolehkah saya tahu,siapakah tuan yang sebenarnya?”

Malaikat Izrail: “Saya adalah Malaikat Maut.”

Kaget sekali Nabi Idris mendengar jawaban teman barunya itu.

Nabi Idris as: “Apakah tuan datang untuk mencabut nyawaku?” tanyanya lagi.

Malaikat Izrail: (tersenyum) “Tidak, saya datanghanya untuk menziarahimu dan Allah Swt. telah mengizinkan niatku.”

Kemudian, Nabi Idris as. pun minta permohonan yang tidak mungkin diminta manusia biasa sekarang ini.

Nabi Idris as: “Wahai malaikat maut, kabulkanlah satu permintaanku kepadamu. Cabutlah nyawaku, kemudian tuan mohonkan kepada Allah agar menghidupkan aku kembali, supaya aku dapat menyembah Allah setelah aku merasakan dahsyatnya sakaratul maut.”

Malaikat Izrail: “Sesungguhnya saya tidaklah mencabut nyawa seorang pun, melainkan hanya dengan izin Allah.”

Kemudian, Allah Swt. memerintahkan kepada Malaikat Izrail, agar memenuhi permohonan Nabi Idris as. Maka dicabutnyalah nyawa Nabi Idris saat itu juga.

Ketika Malaikat Izrail melihat kematian Nabi Idris as. itu, ia pun menangis. Dengan perasaan iba dan sedih, ia memohon kepada Allah Swt. agar menghidupkan kembali sahabatnya itu. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah pun menghidupkan kembali Nabi Idris as. Kematian Nabi Idris yang hanya sementara ini juga terangkum dalam kisah-kisah Nabi Idris.

Kisah Nabi Idris - Melihat Surga dan Neraka
  
Nabi Idris as. adalah salah satu nabi yang pernah melihat surga dan neraka. Setelah permintaannya dikabulkan Allah Swt, Nabi Idris as. memohon untuk diperlihatkan surga dan neraka kepadanya. Atas izin Allah, Malaikat Izrail pun mengajak beliau untuk melihat dua tempat yang akan menjadi persinggahan terakhir bagi manusia itu. Dalam kisah-kisah Nabi Idris tersebut secara jelas dituliskan bahwa hal itu memang benar-benar terjadi.

Masih dalam kisah-kisah Nabi Idris. Diceritakan bahwa pertama-tama, malaikat membawa Nabi Idris as. ke tempat paling mengerikan, yaitu neraka. Baru sampai di dekat pintu neraka, Nabi Idris as. pingsan karena melihat penjaga pintu neraka yang wajahnya amatlah mengerikan. Beliau menyaksikan penjaga pintu neraka itu menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka terhadap perintah Allah Swt. semasa hidupnya.
Belum pernah beliau menyaksikan tempat paling mengerikan selain neraka. Tak kuasa menyaksikan berbagai kengerian, Nabi Idris as. pun meninggalkan tempat itu dengan tubuh yang lemas.

Selesai mengunjungi neraka, kisah-kisah Nabi Idris juga menggambarkan keadaan di surga. Malaikat Izrail pun membawa Nabi Idris as.ke surga. Dikatakan bahwa malaikat penjaga pintu surga, yaitu Malaikat Ridwan,memiliki sosok yang rupawan. Malaikat Izrail pun memberi salam kepadanya. Malaikat Ridwan amat sopan dan ramah. Wajahnya yang berseri-seri mempersilakan mereka untuk memasuki surga.

Ketika melihat isi surga, beliau pun hampir pingsan. Namun, kali ini bukan karena takut atau ngeri, melainkan karena takjub akan pesona dan keindahan tempat ini. Dikatakan bahwa beliau melihat sungai-sungai mengalir jenih seperti kaca. Di pinggir sungai tersebut, tumbuh pepohonan yang batangnya berkilau-kilau karena terbuat dari emas dan perak.

Beliau juga melihat istana-istana pualam yang diperuntukkan bagi penghuni surga. Nabi Idris as. pun tak kuasa menahan keterpukauannya. Berkali-kali beliau mengucap “Subhanallah, Subhanallah,Subhanallah…”

Nabi Idris as. bahkan meminum air surga yang luar biasa nikmatnya. Berulang kali, ia mengucap “Alhamdulillah” setelah meminum air tersebut. Saat mengelilingi surga, beliau ditemani oleh para bidadari yang cantik dan anak-anak muda yang tampan. Gambaran keindahan yang dimiliki surga benar-benar menjadi pengalaman berharga Nabi Idris yang tertulis dalam kisah-kisah Nabi Idris.

Setelah puas melihat surga, tibalah waktunya pergi bagi Nabi Idris untuk kembali ke bumi. Tapi ia tidak mau kembali ke bumi. Hatinya sudah terpikat keindahan dan kenikmatan surga Allah.

“Saya tidak mau keluar dari surga ini, saya ingin beribadah kepada Allah sampai hari kiamat nanti,” kata Nabi Idris.

“Tuan boleh tinggal di sini setelah kiamat nanti, setelah semua amal ibadah dihisab oleh Allah, baru tuan bisa menghuni surga bersama para Nabi dan orang yang beriman lainnya,” kata Malaikat Izrail.

“Tapi Allah itu Maha Pengasih, terutama kepada Nabi-Nya. Akhirnya Allah mengkaruniakan sebuah tempat yang mulia di langit, dan Nabi Idris menjadi satu-satunya Nabi yang menghuni surga tanpa mengalami kematian. Waktu diangkat ke tempat itu, Nabi Idris berusia 82 tahun.

Firman Allah:
“Dan ceritakanlah Idris di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi, dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Al-Anbiya:85-86).

Pada saat Nabi Muhammad saw. sedang melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj ke langit, beliau bertemu Nabi Idris. “Siapa orang ini?” Tanya Nabi Muhammad kepada Jibril yang mendampinginya waktu itu."Inilah Idris," jawab Jibril. Nabi Muhammad mendapat penjelasan Allah tentang Idris dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 85 dan 86, serta Surat Maryam ayat 56 dan 57.

Wallahu a’lam..

Semoga kita semua kelak akan menjadi penghuni surga-Nya wahai sahabat sekalian.. Mari perbanyak amal kebaikan dan jangan lupa pula berdo’a selalu mengharap kepada Allah Yang Maha Memberi.. Insya Allah, semoga bermanfaat...

Sumber : inspirationyourlife.blogspot.com
Link ke posting ini


Sudah sekian lama para saintis kebingungan tentang bagaimana sebuah piramid yang merupakan salah satu bangunan ajaib di dunia ini dibina. Terdapat pelbagai teori yang dikemukakan untuk mengetahui teknologi yang digunakan dalam pembangunan piramid ini kerana teknologi untuk mengangkat batu-batuan besar yang beratnya mencapai ribuan kilogram ke puncak bangunan belum memungkinkan di zamannya. Apakah rahasia di sebalik pembangunan piramid ini?

Harian Amerika Times edisi 1 Disember 2006, telah menyiarkan satu berita saintifis yang mengabarkan bahwa Firaun telah menggunakan tanah liat untuk membangun piramid. Menurut kajian tersebut, disebutkan bahawa batu yang digunakan untuk membuat piramid adalah dari tanah liat yang dipanaskan sehingga membentuk batuan keras yang sukar dibedakan dengan batu asalnya.

Al-Quran Telah Mempunyai informasi

Jika dikaji lebih mendalam, ternyata Al-Quran telah menjelaskan perkara ini 1400 tahun silam sebelum kajian saintifik dijalankan. Perhatikan sebuah ayat Al Quran yang berikut :

“Dan berkata Fir’aun: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku TANAH LIAT kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahawa Dia dari orang-orang pendusta.” (Al-Qasas: 38)

Para saintis mengatakan bahawa Firaun mahir di dalam bidang ilmu kimia dalam memproses tanah liat sehingga menjadi batu. Teknik yang mereka gunakan adalah sangat misteri jika dilihat dari spesifikasi batu yang mereka tinggalkan.

Profesor Gilles Hug, dan Dr. Michel Barsoum menegaskan bahawa Piramid yang paling besar di Giza, dibuat dari dua jenis batuan yang terdiri dari batu asli dan batu-batu yang dibuat secara manual hasil dari olahan tanah liat.

Artikel kajian yang diterbitkan oleh majalah “Journal of the American Ceramic Society” menegaskan bahawa Firaun menggunakan tanah jenis slurry untuk membina monumen yang tinggi, termasuk piramid. Kerana tidak mungkin bagi seseorang untuk mengangkat batu berat ribuan kilogram. Sebaliknya pada dasar piramid, Firaun menggunakan batu asli.

Lumpur tersebut merupakan campuran lumpur kapur yang dipanaskan dengan air garam dan ini akan menghasilkan terbentuknya campuran tanah liat. Kemudian olahan itu dituangkan ke dalam tempat yang disediakan di dinding piramid. Ringkasnya lumpur yang sudah diaduk mengikut ukuran yang dikehendaki tersebut dibakar, lalu diletakkan di tempat yang sudah disediakan di dinding piramid.

Profesor Davidovits telah mengambil sampel batu piramid yang terbesar untuk dilakukan analisis dengan menggunakan mikroskop elektron terhadap batu tersebut. Hasilnya, Davidovits menegaskan bahawa batu itu diperbuat dari lumpur. Selama ini, tanpa penggunaan mikroskop elektron, ahli geologi belum mampu untuk membedakan antara batu alam dengan batu buatan manusia.

Sebelumnya, seorang saintis Belgium, Guy Demortier, telah bertahun-tahun mencari jawaban dari pembuatan batu besar di puncak-puncak piramid. Guy Demortier berkata, “Setelah bertahun-tahun melakukan penyelidikan dan kajian, sekarang barulah saya yakin bahwa piramid yang terletak di Mesir diperbuat dengan menggunakan tanah liat.”

Piramid Bosnia

Penemuan oleh Dr Perancis Joseph Davidovits ini adalah hasil kajian yang memakan masa kira-kira dua puluh tahun. Sebuah kajian yang begitu lama terhadap piramid Bosnia, “Piramid Matahari” dan menjelaskan bahawa batu-batunya diperbuat dari tanah liat. Ini memperkuatkan lagi bahawa kaedah ini tersebar luas di masa lalu.

Bukti-bukti dari kajian menunjukkan kepada kita semua bahwa bangunan bangunan raksasa, patung-patung raksasa dan tiang-tiang yang ditemui dalam teknologi canggih zaman dahulu, juga dibuat dari tanah liat. Al-Quran adalah kitab pertama yang menjelaskan rahsia bangunan piramid, bukan para Ilmuwan Amerika, maupun Perancis.

Kita tahu bahwa Nabi saw tidak pernah pergi ke Mesir dan tidak pernah melihat piramid, bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentangnya. Kisah Firaun, terjadi sebelum masa hidupnya Nabi saw ribuan tahun yang lalu, dan tidak ada satu pun di muka bumi ini pada masa itu yang mengetahui tentang rahasia piramid. Sebelum ini, para saintis tidak pasti bahawa Firaun menggunakan tanah liat yang dipanaskan untuk membina monumen tinggi kecuali beberapa tahun kebelakangan ini.

Ajaib, 1400 tahun yang lampau, Nabi Muhammad saw, beratus tahun selepas berakhirnya Dinasti Firaun memberitahu bahwa Firaun membina monumen yang kini dikenali sebagai Piramid menggunakan tanah liat.

Kenyataan ini sangat jelas dan kuat untuk membuktikan bahawa Nabi Muhammad saw tidaklah berbicara mengikut hawa nafsunya melainkan petunjuk dari Allah swt yang menciptakan Firaun dan menenggelamkannya, dan Dia pula yang menyelamatkan nabi Musa. Dan Dia pula yang memberitahu kepada Nabi terakhir-Nya akan hakikat ilmiah ini, dan ayat ini menjadi saksi kebenaran kenabiannya di kemudian hari.

Sumber : eramuslim.com
Link ke posting ini
Kesaksian Orang yang Mati Suri
22.39 | Author: Belajar Islam



Aslina adalah warga pekan baru yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.

Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun.

Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid) . Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknyadi Rumah Sakit di jakarta. Setelah itu, Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi..

”Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,’ ‘ jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke jakarta sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ”Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir, ” ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.

”Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,” begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang. ”Saya telah merasakan mati,” ujar anak yatim itu..

Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu. Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ”Terasa malaikat mencabut (nyawa) dari kaki kanan saya,” tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. ”Saat di ujung napas, saya berzikir,” ujarnya. ”Sungguh sakitnya, Pak, Bu,” ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru.

Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalammualaikum kepada ruh Aslina. ”Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,” ujar Aslina mencerita pengalaman matinya. Lalu malaikat itu bertanya: ‘’siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu.. “ Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ”Tak ada teman kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.


Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis,badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut.

Kemudian Aslina melanjutkan. ”Bapak, Ibu, ingatlah mati,” sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan ”Ayah”. ”Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,” tanyanya. Lalu muncullah satu sosok.

Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ”Wahai ayah, janji saya telah sampai.” Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ”Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu. ” ruh Aslina pun menjawab. ”Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai”.

Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. ”Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya bak seorang pendakwah.

Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. ”Siapa kamu?” lalu perempuan itu menjawab.”Akulah (amal) kamu.”

Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya. ”Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang.

Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain.

Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.

Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya. Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.

Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat)baik,red).

Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan adzan seperti adzan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. ”Saya mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. ”Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,” ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ”husnul khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ”Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.”

Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. ”Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.” Manusia-manusia itu juga memohon. ”Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.”

Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah.

”Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua, ” ujarnya.

Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan ”aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya,” Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu’muninun (23) ayat 99-100:

Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:”Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).”(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (100).

Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ”Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”

Setelah berpidato, aslina mendapatkan tepukan meriah dari penonton tapi bila di facebook, ia dapatkan jempol sekarang.

Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran darikesaksiaan tersebut.
Nb : Bagikan cerita ini kepada semua orang, agar mereka mendapat hikmahnya dari cerita ini. Dan Ternyata hidup ini hanya sementara, serta hanya amal juga hati yang bersihlah yang mampu menuntun kita menuju jalan kehadapan Illahi.


Sumber : zilzaal.blogspot.com

 

Link ke posting ini