Kisah Dua Tukang Sol
21.00 | Author: Belajar Islam
Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.
Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.
Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.
“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.
“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.
“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.
“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”
“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.
“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.
“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.
“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.
Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.
“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”
Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.
Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,
“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”
Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,
“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”
“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.
“Abang yakin?”
“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.
“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.
“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.
Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.
“Apa kabar mang Udin?”
“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.
Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,
“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”
“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.
“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.
Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,
“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”
“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.
Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.
“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.
Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.
“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.
“Tidak.”
“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”
Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.
“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”
Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

Dikutip dari http://www.motivasi-islami.com
Link ke posting ini
Suara Hati
05.48 | Author: Belajar Islam
Waktu kali ini membungkamku tuk bersuara
Menghujam dalam rasa
Menenggelamkanku dalam kubangannya
Menekankan jiwa akan kata yang lamat menyanyat nyata
"Aku salah"
"Aku salah"
"Aku salah"
Tertanam jelas tanpa penghalang mengapa
Tak dapat lagi berkata
Hanya raga rendah tanpa peka yang tersisa
Hanya jiwa hina tanpa peka yang terlupa
Inikah akhirnya...
Semua harapan semua asa
Untuk tetap merenda
Inikah akhirnya...
Tentang dia pada jendela cahaya-Nya
Pada hati pada rasa
yang masih penuh akan kata harap
Maaf...
Hanya ini yang dapat kuhaturkan
dari pelataran kesalahan
dari beranda kekhilafan
Maaf.Maaf..Maaf...
Dikutip dari : http://mutiarahati-info.blogspot.com
Link ke posting ini
Pelangi Persahabatan
20.53 | Author: Belajar Islam

“Teringat disaat kita tertawa bersama,
Ceritakan semua tentang kitaa…..”

Memang benar yang dikatakan para pepatah,
”setiap pertemuan pasti kan berujung pada perpisahan..”

Perjalanan panjang persahabatan kita ini tlah kita lalui bersama.
Bertahun-tahun tinta emas pena kita tlah mengukir kenangan pahit dan manis
Kini kita harus meniti jalan masing-masing
Membuka lembar cerita baru, untuk masa depan yang lebih cerah
Sahabat,
Kita kenal bukan sehari atau 2 hari yang lalu
Kita bersama bukan hanya dalam keadaan senang saja
Kita melangkah dengan genggaman erat tangan kalian
Kita berdiri dengan semangat persahabatan kalian

Sahabat,
Entah mengapa waktu begitu cepat berlalu
Menyisakan kenangan masa lalu kita bersama
Menitikkan air mata disaat kita merindukan saat-saat seperti dulu

Sahabat,
Tak kuasa ku menahan tangis saat ku ingat kalian
Saat kalian tertawa bersama
Saat kalian serius menghadapi suatu hal
Saat kalian saling bersitegang satu sama lain
Saat kalian menangis bersama
Dan saat kalian bergurau bersama

Sahabat,
Mungkinkah waktu itu kan kembali???
Mungkinkah kita kan menjadi sahabat sejati tuk selamanya???
Mungkinkah kenangan indah seperti dulu kan kita temui lagi???

Jejak-jejak langkah kita takkan pernah terhapus
Raut wajah kalian pun takkan pernah sirna dalam benakku
Sinar persahabatan kalian pun kan selalu terang

Meskipun ku tau sahabat,
Jarak kita kini jauh terpisah berbeda-beda
Namun ku yakin, hati kita kan slalu tetap menyatu
Pelangi persahabatan kita pun kan tetap bersinar
Memberikan semangat yang terus membara
Memberikan dukungan yang tak ada habisnya
Kalian takkan tergantikan
Karena kalian separuh dari hidupku


For "Monazites IPA 1 MAN 2 Model Makassar"
Link ke posting ini
Kisah Seorang yang Tak Kenal Putus Asa
20.22 | Author: Belajar Islam

Ini adalah salah satu kutipan dari Pengalaman pribadi seorang yang curhat tentang hidupnya di sebuah blog. ia yang sangat sederhana dan kecil mungkin sedikit
berguna bagi rekan-rekan di milist ini.

begini kisahnya.......

Kehidupan miskin dari seorang janda beranak 6, yang ditinggal pergi oleh
suami tercinta (meninggal), harus membesarkan 6 orang anak dengan usia
tertua 10 tahun dan bontot 10 bulan.
Dalam kehidupan keluarga, saya sebagai anak bontot tidak dan belum pernah
mengerti kasih sayang seorang ayah. Ibu yang menjadi Orang Tua Tunggal
menjadi tumpuan harapan dalam mencari sesuap nasi dan biaya pendidikan ke-6
anaknya.

Dalam masa remaja ku, aku sangat merasakan betapa pahitnya hidup, betapa
sulitnya untuk mengangkat wajah bertatapan dengan orang lain, betapa
rendahnya status sosial keluarga ku bahkan dimasa kanak-kanak ku aku tidak
pernah memiliki mainan yang dimiliki oleh teman dan tetangga ku sehingga
sering aku dan saudaraku harus berinisiatif menciptakan sediri mainan dari
bahan kayu dan papan sisa pertukangan orang. Demi memenuhi semua kebutuhan,
ibu ku harus berjuang mengolah sawa dgn cara bayar sewa, setiap hari sabtu
(pekan / pasar besar) Ibu ku berdagang ikan asin, untuk menambah uang
pensiun (PORLI dgn pangkat AIPTU) sebagai satu-satunya harta warisan yang
ditinggal ayah ku, sampai pada saat aku kelas 2 SMP, ibu ku sudah bisa
membeli 2 petak sawah dan rumah gubuk keci juga sudah kami miliki pada saat
aku berusia 1,5 tahun.

Saat kelas 1 SMA, ibu ku terpeleset dan jatuh ke jurang ketika hendak
kembali dari sawah, pergelangan tangganya patah dan tidak berfungsi lagi
untuk mengangkat beban berat, bahkan untuk mengangkat 1/2 kg pun sudah
tidak mampu. Jadilah aku dan Kakak perempuanku sebagai pengganti ibu
berjualan di pasar setiap hari sabtu. Selama 1 tahun kegiatan itu kami
tekuni, namun kenyataan semakin pahit. Semua pelanggan ibu ku lambat-laun
pindah ke pedagang lain tanpa kami tau apa penyebabnya. Terus terang, kami
sangat menghargai kejujuran, ibu mendidik kami di rumah dgn penuh disiplin.
dalam berdagang , ibu selalu bilang.."jangan sekali-kali mengurangi
timbangan dan bahkan kalau diminta, tambahkan 1 ekor ikan untuk pelanggan,
karena dgn menambahkan 1 ekor kita tidak akan rugi. Namun seperti yang saya
katakan, kenyataan dan harapan baik ternyata tidak berpihak kepada kami.
Setelah 1 tahun, kami melakukan evaluasi, tidak mungkin meneruskan kegiatan
ini lagi, karena kami sudah sering dimarahi oleh Toke (Supliyer Ikan Asin)
karena setiap hari pasar, barang yang kembali sampai 70 %. Dengan sangat
berat hati, kami terpaksa berhenti berdagang dan saat itu saya duduk di
kelas 2 SMA. Putuslah sudah harapan untuk melanjutkan pendidikan.

Dalam keadaan seperti itu, ibuku selalu bilang, "Kamu harus sekolah
terus...jangan sampai kamu mundur..gaji pensiun kita masih cukup untuk
bayar sekolah dan untuk makan kita masih punya hasil dari sawah, asalkan
berhemat kita pasti cukup untuk setiap tahun.." Demikian selalu ibu ku
berkata. Sementara Abang dan kakak ku sudah bekerja walaupun penghasilan
mereka hanya cukup untuk mereka sendiri, dan akhirnya kau memang bisa
meneruskan pendidikan ku sampai LULUS SMA tahun 1983.

Setelah Lulus, aku berfikir.."harus kemana..???" lalu dengan bantuan Abang
tertua, aku dibiayai untuk mengikuti test SIPENMARU di salah satu
Universitas di Ibu Kota Propinsi dan untuk sementara waktu aku menumpang di
rumah saudara ibu ku. Sebagai bekal, ibu membekali aku dengan beras dan
uang untuk beli lauk untuk kebutuhan selama 10 hari. Dengan semangat yang
sangat tinggi , aku mengikuti test dan dengan suatu komitmen.."Apa bila
lulus..saya harus membiayai kuliah sendiri dengan bekerja diluar jam
kuliah". Namun...kembali aku harus menelan PIL PAHIT, karena ketika
pengumuman, nama ku tidak tercantum dalam daftar yang diterima dan akhirnya
aku kembali ke kampung halaman ku.

Hari demi hari, minggu bulan dan tahun kulalui dengan harapan yang penuh
tanda tanya.."harus kemanakah aku..?" Semua pekerjaan ku geluti, mulai dari
tukang (buruh bangunan), pengspalan jalan, kondektur bis, kernet truk,
montir bengkel mobil, bahkan pernah sebagai pengayuh becak . Semua ini ku
lakukan karena dengan tekad dan harapan " saya tidak akan pernah kalah,
apalagi harus sampai mengemis. Saya harus bercermin kepada pengalaman Ibu
saya yang membesarkan dan mampu menyekolahkan kami sampai bisa mengecap
pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah.

Dalam perjalanan hidup saya sebagai gembel pasaran, saya tetap mangirimkan
lamaran pekerjaan. Namun ada yang aneh dalam pengharapan saya..saya ingin
sekali menjadi seorang PENGANTAR SURAT , entah apa enaknya dan entah apa
penyebabnya. Dua kali saya melamar di Instansi tersebut..2 kali juga saya
harus menelan PIL PAHIT. tapi apakah perjuangan saya sampai di sini..??
"tidak..!!!", saya tetap mengirimkan lamaran saya ke Instansi tersebut,
sampai akhirnya suatu saat saya mendapatkan penggilan ke 3 untuk seleksi
penerimaan dan Hasilnya..."PUJI TUHAN" harapan ku terkabulkan..angan-angan
ku tercapai...bahkan lebih dari yang aku harapkan...yang tadinya aku ingin
sebagai sekedar pengantar surat...tetapi yang kudapatkan menjadi Seorang
Karyawan Kelas Menengah sebagai Petugas Pos Keliling Desa di salah satu
kecamatan walaupun dalam masa 1 tahun aku harus menjadi tenaga lepas harian
dengan gaji (ketika itu) Rp1.200 / hari, padahal pekerjaan terakhirku
menjadi kondektur bis sudah Rp2.500 / hari net..makan dan rokok
gratis..heheheh...) belum lagi aku harus membayar biaya sewa kamar di
tempat kerja ku.

Hari demi hari pekerjaan ku kujalani dengan penuh ketekunan dan bahkan
tidak jarang aku harus keluar masuk dusun di tengah kebun kopi untuk
menjemput surat atau kiriman lainnya dan bahkan hal ini sering kulakukan
diluar jam dinas kerja, karena mengingat apabila kulakukan pada jam kerja,
tidak akan mungkin cukup waktu jam dinas ku, karena aku harus kembali ke
kantor pada jam yang sudah ditentukan, agar semua pekerjaan dan kiriman
yang ku ambil dari desa bisa berangkat hari itu juga ke Kantor Cabang di
kabupaten. Demikianlah kulakukan pekerjaan itu dengan senang hati dan
bangga selama +/- 4 tahun.

Dalam perjalanan 4 tahun, walaupun semua kujalani dengan senang hati, namun
lama kelamaan aku mulai merasa berat, karena harus naik sepeda motor sejauh
78 km / hari, melayani 14 desa, 4 SMU, 8 SMP dan puluha SD dan bahkan 3
kali dalam seminggu harus melayani 2 kecamatan karena ada pemekaran
kecamatan dan disana belum ada pelayanan instansi ku . Dengan melalui jalan
setapak, kadang jalanan berbatu cadas..bahkan kadang dengan lumpur hampir
se dengkul..(kalau di musim penghujan) semua kujalani dan memang harus ku
jalani. Dalam perjalanan karir selama 4 tahun, aku mencoba berdiskusi
dengan para senior dan pimpinan, bagaimana cara peningkatan karir. Mereka
semua sangat baik hati dan membangun motivasi dalam diri ku. Sampai suatu
saat, tiba waktunya dan memenuhi syarat yang ditetapkan oleh perusahaan,
aku mengikuti seleksi untuk menjalani Pendidikan dan Pelatihan Internal.
Didasari pengalaman dan banyaknya kegagalan serta beratnya penderitaan
dalam perjalanan hidup, aku berusaha dengan segala upaya. Buku-buku di
perpustakaan kantor kupinjam dari pimpinan dan ku bawa ke rumah, hampir
semua buku dan nyaris perpustakaan kantor pindah ke kamar kost ku. Akhirnya
atas Berkat Rakhmat dan Perkenan Tuhan...., aku dinyatakan LULUS test di
Wilayah Propinsi dan selanjutnya mengikuti test Pusat di P. Jawa. Doa
Pengahrapan dan Perjuangan ku , oleh Tuhan dibukakan jalan dan aku LULUS
dan berhak mengikuti pendidikan penjenjangan (non gelar) selama 1 ,5 tahun.

Hari-hari berikutnya setelah LULUS dari pendidikan , pekerjaan kujalani
dengan lancar hingga 2,5 tahun kemudian aku kembali Diberikan Tuhan Jalan
untuk mengikuti Pendidikan Jenjang Diploma di pendidikan internal. Singkat
cerita..., saat ini saya menjadi seorang Supervisor di salah satu Unit
Pelaksana Tekhnis di daerah Jakarta setelah mengalami mutasi dari beberapa
kota.
Hasil yang kuraih saat ini adalah Pemberian Tuhan , karena Ia melihat
perjuangan dan mendengar Doa dan Pengharapan ku. lalu apakah aku Puas...???
tidak...tapi aku Cukup Bangga dengan hasil ku saat ini, dari seorang Gembel
Terminal dan Tukang Kayuh Becak, kini menjadi Seorang Karyawan Tetap BUMN.

Pesan saya kepada rekan-rekan...Jangan Menyerah terhadap Tantangan Hidup
dan Kondisi Lingkungan. Tataplah ke depan karena SEJAUH MATA MEMANDANG,
SELUAS ITU PULA HARAPAN TERBENTANG UNTUK DIRAIH, dan jangn Lupa, SERTAKAN
TUHAN DALAM SEGALA RENCANA HIDUP MU, KARENA DIA YANG BERKENAN UNTUK
MERANCANGKAN YANG BAIK DALAM HIDUPMU.

by Andi Taufik
Taken from : http://andiethk.blogspot.com
Link ke posting ini

Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam. Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich ke Islam membuat heboh Swiss.

Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke seantero negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.

Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.

Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahwa larangan kubah masjid telah memperoleh status hukum.

Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.

Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Ia mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan kebijakan partai. Selain petisinya tentang kubah masjid itu, ia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army karena popularitasnya.

Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemdian disebut oleh SVO sebagai setan.

Dulu, ia mengatakan bahwa ia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di partai dan membuat pernyataan publik tentang ia masuk Islam. Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. (sa/iol)

Sumber : http://eramuslim.com
Link ke posting ini

Christian Gonzales, pemain cemerlang bertabur bintang dengan gelar peraih top skor 4 tahun berturut-turut merupakan sosok yang tak asing lagi di dunia persepakbolaan tanah air Indonesia. Namun siapa menyangka, dibalik kesuksesan Gonzales terdapat suatu kekuatan yang menyemangati hidupnya, terlebih setelah ia menjadi Muallaf, kekuatan itu tidak lain adalah kekuatan doa.

Perkenalannya dengan dunia sepak bola, dimulai ketika Gonzales berusia 6 tahun. Semula ayahnya berharap Gonzales dapat meneruskan jejaknya menjadi seorang militer, namun karena kegilaannya terhadap dunia sepak bola, harapan itu tak terpenuhi.
Menginjak usia ke 18 tahun, pria yang menyukai warna hitam ini bertemu dengan seorang wanita beragama Islam asal Indonesia, Eva Nurida Siregar di Cile, Amerika latin pada tahun 1994. Saat itu Eva menekuni salsa di sekolah Vinadelmar. Lama berkenalan akhirnya Gonzales menyimpan hati pada Eva. Dan tak lama kemudian Cintanya berbalas.
Sebagai penganut Katolik, lelaki yang dikenal pendiam ini sama sekali tidak mengenal agama Islam yang dianut pujaan hatinya, begitu pun dengan sang ibu. “Sebelum ketemu istri, saya sama sekali tidak tahu Islam” ungkap pria penggemar Rivaldo. Maka peran Eva pun menjadi berat, ia berulang kali menjelaskan tentang ajaran Islam yang dianutnya.
Usaha wanita kelahiran Pekanbaru ini akhirnya berhasil. Eva Nurida Siregar yang beragama Islam dan Christian Gerard Alfaro Gonzales yang beragama Katolik menikah dan hidup bersama di Uruguay pada tahun 1995.

Perkembangan karir ini sebetulnya tidak lepas dari peran Eva. Setiap kali pemain sepak bola yang dijuluku elloco (si gila) ini mau berangkat bertanding, wanita yang biasa dipanggil Amor oleh Gonzales ini selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT. Dalam berdoa terkadang Eva sengaja mengeraskan suara dengan harapan Gonzales dapat mendengarnya.
Kebiasaan inilah yang membuat Gonzales mulai tertarik dengan ajaran Islam. Ia sendiri tidak akan beranjak pergi sebelum kekasihnya selesai berdoa. Karena dari doa inilah Gonzales menemukan kedamaian dan ketenangan yang selama ini tidak didapatkan dari agama yang dianut sebelumnya. Doa ini pula yang membuat dirinya semakin bersemangat dan optimis setiap kali bertanding di lapangan hijau.
Tidak hanya itu, Gonzales terkadang memperhatikan kebiasaan Eva yang selalu mengucapkan bismilah ketika mau melakukan sesuatu atau mengucapkan istighfar ketika dihadapkan pada konflik, serta ucapan lainnya yang menjadi doa umat Islam.Indonesia merupakan negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam, selama ini Gonzales hanya mengenal Islam melalui istrinya dan ini dirasa tidak cukup. Sekarang pemain yang doyan sup ayam ini bisa langsung menemukan Islam dari para penganutnya.
“Saya tidak pernah memaksa Gonzales masuk Islam”. Ungkap Eva “Kadang-kadang setelah saya baca buku tentang ajaran Islam, saya simpan buku itu di meja dan Christian diam-diam membacanya, maka dia kemudian tau bagaimana sikap suami terhadap istrinya dalam Islam dan bagaimana sikap istri terhadap suaminya” Lanjutnya mengenang saat pertama kali tinggal di Indonesia bersama Gonzales.
Maka tepat pada tanggal 9 Oktober 2003 Christian Gonzales memutuskan untuk masuk Islam atas dasar kemauan sendiri dengan disaksikan oleh ustadz Mustafa di Mesjid Agung al Akbar Surabaya. Christian Gerard Alfaro Gonzales kemudian diberi nama Mustafa Habibi. Nama Mustafa diambil dari guru spiritualnya, ustadz Mustafa sedangkan Habibi (cintaku) diambil karena rasa cinta sang istri amat besar kepada Christian Gonzales.Islam memiliki kesan tersendiri bagi Gonzales “Karena di dalam Islam setiap ada sesuatu ada ucapan doanya seperti ketika masuk rumah mengucapkan assalamualaikum, ketika mau melakukan sesuatu diawali dengan basmalah, dan setiap melangkah dalam Islam selalu aja ada bacaan. Dan ini menjadi hati saya merasa tenang” Ungkap Eva mengutip ucapan Gonzales.

Sang ibu, Meriam Gonzales saat dikabarkan keislaman anaknya, menerima dengan ikhlas agama yang dipilih anak tercintanya, ia hanya berharap anaknya meraih kesuksesan di masa depan. Namun untuk menjalin hubungan keluarga, Gonzales dan Eva setiap hari tidak ketinggalan menghubungi ibunya, hanya sekedar menanyakan kabar dari negara nun jauh di sana.
Seakan menemukan air di gurun sahara, begitulah kondisi pemain yang mencetak 33 gol untuk PSM Makassar saat itu. Dengan bimbingan Ustadz Mustafa, Gonzales mulai mengenal Islam lebih dalam. Selain itu Hj Fatimah, ulama terkenal asal Mojosari dan Hj. Nurhasanah turut menjadi guru spiritual Gonzales. Bahkan Majlis Ulama Gresik sendiri sampai mengangkat Gonzales beserta keluarganya sebagai anak angkat mereka.
Hj. Nurhasanah biasa dipanggil Bunda, selalu menyemangati Gonzales dengan nasehat untuk selalu berdoa. “Kamu harus kuat-kuat doa” kenang Eva menirukan ucapan Hj. Nurhasanah. Begitu pun Hj Fatimah, ustadzah yang membangun mesjid dengan nama Gonzali ini baik via telephone atau tatap muka selalu menyemangati Gonzales dengan doa sambil menangis.Setiap kali pertandingan akan digelar keesokan harinya, Eva sang istri selalu mengadakan pengajian yang dihadiri oleh ibu-ibu sekitar rumahnya dan diakhiri dengan pembacaan doa. Sementara pengajian berlangsung, Gonzales selalu memperhatikan pengajian dan duduk disamping Eva atau terkadang ia duduk di belakang ibu-ibu pengajian. Maka tidak heran jika Eva lupa tidak mempersiapkan pengajian orang yang pertama kali menegurnya adalah suaminya sendiri.Popularitas dan harta yang melimpah ruah tidak begitu mempengaruhi Gonzales, ia bukanlah tipe orang yang suka menghambur hamburkan uang. Bahkan ia akan sangat marah jika ada orang yang mengajaknya ke klub atau tempat hiburan malam dan tak segan Gonzales akan memutuskan hubungan dengan orang tersebut.
Harta yang ia raih dari perjuangannya di persepakbolaan lebih suka ia berikan kepada anak yatim, fakir miskin dan ibu-ibu pengajian sebagai zakat dan shadaqah. Hal ini dilakukan karena Gonzales mengetahui kewajiban zakat yang ia baca dari buku-buku keislaman milik istrinya.


Sempat Gonzales beserta istrinya berkeinginan untuk menunaikan haji tahun 2008, namun Allah berkehendak lain uang yang di dapatkan dari peralihan top skor sebanyak 50 juta digunakan guna membiayai operasi istrinya untuk melahirkan anak keempat, Vanesa Siregar Gonzales .
Menyangkut kebiasaanya dalam pertandingan sepak bola, pemain yang rajin bersih-bersih rumah ini setiap kali berangkat bertanding selalu membawa tasbih di dalam tasnya dan beberapa buku doa sebagai perbekalan. Selain itu tidak seperti pemain muslim lainnya yang sujud syukur ketika menciptakan gol, bagi Gonzales bentuk rasa syukur ketika berhasil mencetak gol adalah dengan mengangkat telunjuknya ke mulut seraya menengadah ke langit, hal ini merupakan isyarat rasa syukur terhadap Allah yang Maha Esa.
Bahkan pada saat membela tim Persib Bandung, pria berkalung ayat kursi ini menggunakan nomor punggung 99. Nomor ini dipilih bukan tanpa alasan, 99 merupakan isyarat asma Allah yang dikenal dengan asmaul husna.

Terkait harapannya ke depan, Gonzales sangat perhatian dengan keluarga “Saya berharap anak-anak menjadi anak yang shaleh dan sehat wal afiyat, semoga Allah melindungi, supaya ketika masalah datang ya cepat hilang” demikian keinginan Gonzales.



Sumber : http://muallaf-online.blogspot.com
Link ke posting ini

Oleh Nasrullah Nara
http://cetak.kompas.com

Upaya menghapus stigma Makassar sebagai kota yang lekat dengan tawuran pelajar dan aksi kekerasan mahasiswa terus digalakkan oleh jajaran terkait. Salah satunya adalah Lomba Istilah Ilmiah yang digelar. Pemerintah Kota Makassar bekerja sama dengan institusi pendukung Gerakan Makassar Gemar Membaca.

Dihadiri Duta Baca Katon Bagaskara, lomba yang melibatkan 360 siswa SMA dan sederajat tersebut berakhir Kamis (5/6) malam di Balai Prajurit Jenderal M Jusuf. Adalah Deswita Tri Aryani, siswa SMA 3 Makassar, yang menang lomba tersebut, dengan menyisihkan dua finalis lainnya, Dewi Pusparini (SMA 21 Makassar) dan Azinal Reza (Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Makassar). Selain trofi, Deswita juga meraih hadiah senilai Rp 5 juta.

Lomba Istilah Ilmiah merupakan pengembangan dari pemilihan Duta Baca yang mensyaratkan keluasan wawasan peserta dalam berbagai bidang ilmu tentu saja diperoleh melalui membaca, baik melalui buku maupun dunia maya. Bedanya, Pemilihan Duta Baca yang sudah berlangsung tiga tahun terakhir terbuka bagi mahasiswa. Adapun Lomba Istilah Ilmiah terbuka bagi siswa SMA dan sederajat.

Mekanisme Lomba Istilah Ilmiah berawal dari pemilihan siswa terbaik dari 40 SMA/MA dan SMK yang selama ini merupakan binaan Telkomsel dalam Program "Hai Sobat". Setiap sekolah mengirimkan 3 siswa terbaik, masing-masing seorang dari kelas I, II, dan III. Dengan demikian, ada 360 siswa yang ikut adu kemampuan menguasai istilah dalam bidang Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, Bahasa Inggris, dan IPS/Umum.

Pada bidang Matematika, misalnya, tak hanya ditanyakan apa itu pitagoras? Tapi, juga tentang riwayat dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula hukum pascal pada bidang Fisika.

Babak penyisihan

Pada babak penyisihan 21-22 Mei lalu, jumlah peserta terus mengerucut menjadi 3 orang melalui seleksi yang melibatkan tim juri dari Bimbingan Belajar Gadjah Mada. Akhirnya, tinggallah tiga finalis yang maju ke babak final. Ketiga finalis tidak hanya diuji oleh tim juri definitif, melainkan juga oleh tim juri "dadakan" terdiri atas Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, anggota DPR Anwar Arifin dan Marwah Daud Ibrahim, Kepala Staf Kodam VII Wirabuana Brigjen TNI Wibowo, serta General Manager Sales and Costumer Service Telkomsel Sulawesi, Maluku, dan Papua M Hasbi Hasibuan.

Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin mengakui, lomba tersebut merupakan upaya membangun gerakan intelektualisme di kalangan generasi muda. Tujuannya tak lain adalah mewujudkan tatanan masyarakat yang beradab, harmoni, mengedepankan dialog ketimbang pertengkaran dan aksi kekerasan.

Lomba tersebut merupakan pengembangan dari Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) yang kali ini memasuki tahun ketiga. Atas gebrakan tersebut, Wali Kota Makassar sempat mendapat penghargaan Widya Pustakaloka dari Wapres M Jusuf Kalla.

Sejak tahun 2006, melalui Gerakan Makassar Gemar Membaca, tiap tahun diadakan pemilihan Duta Baca Kota Makassar yang diikuti mahasiswa perwakilan semua perguruan tinggi di kota berpenduduk 1,3 juta ini.

Para Duta Baca Makassar dihadirkan dalam babak final, termasuk duta baca tahun lalu, Hannyah, mahasiswi Kedokteran Universitas Hasanuddin. Selama ini, Hannyah giat terjun ke pelosok kota untuk menggalang minat baca masyarakat, melalui pendirian taman-taman baca.
Link ke posting ini
Kisah Sesendok Madu
20.16 | Author: Belajar Islam
Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota.
Seluruh warga kota memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota terlintas cara untuk mengelak perintah tersebut.
“Aku akan membawa sesendok penuh, tapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungiku dari pandangan mata orang lain. Sesendok air tidak akan mempengaruhi isi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.”
Tibalah waktu yang ditetapkan. Apa kemudian yang terjadi? Bejana itu ternyata seluruhnya berisi penuh dengan air! Rupanya seluruh warga kota berpikiran sama dengan si Fulan. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.
Kisah simbolik ini sering terjadi dalam berbagai kehidupan masyarakat. Idealnya memang bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian melibatkan pengikut-pengikutnya.
Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS Yuusuf; 12:108)
Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS An Nisaa’; 4:84)
Perhatikanlah kata-kata : “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri”. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu” Setiap orang menurut Beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Berarti setiap orang harus harus tampil terlebih dulu. Sikap mental yang seperti ini akan menyebabkan bejana sang raja akan penuh dengan madu, bukan air, apalagi racun.
***
( Sumber: Lentera Hati, M Quraish Shihab )
Link ke posting ini
Renungan Sebuah Kisah
01.08 | Author: Belajar Islam
Seorang pemuda sebentar lagi akan diwisuda,sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan. Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford.

Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya, bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan keteman-temannya.

Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,… bukan sebuah kunci ! Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Kitab Suci yang bersampulkan kulit asli, dikulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas.

Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, “Yaahh… Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan kitab suci ini untukku ? ” Lalu dia membanting Kitab Suci itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses, dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas. Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri.

Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya.

Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelak terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Kitab Suci itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu. Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Kitab Suci itu, dan mulai membuka halamannya. Di halaman pertama Kitab Suci itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan Tuhan Maha Kaya dari segala apa yang ada di dunia ini”

Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Kitab Suci itu. Dia memungutnya,…. sebuah kunci mobil ! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir kitab suci itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.

Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati….


Hikmah yang bisa diambil : BERSYUKURLAH ATAS APAPUN YANG TUHAN BERIKAN KEPADA KITA .. SESUNGGUHNYA DIALAH MAHA MENGETAHUI APA2 YANG BAIK BAGI KITA..

 dikutip dari  www.alkautsarbatam.com
Link ke posting ini