Pintu-pintu Surga - Kajian Tafsir Hadits
12.27 | Author: Belajar Islam

Allah berfirman,
“Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintu telah terbuka.”
(QS. Az-Zumar : 73)

Menurut para ulama, pintu surga itu ada delapan. Mereka berpedoman pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Umar ibnul-Khattab bahwa Nabi saw bersabda, “Setiap orang di antara kalian yang setelah berwudhu dengan sempurna lalu membaca Asyhadu Anla Ilaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu Wa Rasuluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus rasul utusan-Nya), niscaya dibukakan untuknya kedelapan pintu surga. Ia bisa masuk dari pintu yang mana pun yang ia inginkan.”

Mengenai masing-masing pintu surga tersebut juga disebutkan dalam hadits pada kitab Al-Muwatha’, Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menafkahkan sepasang harta pada jalan Allah, niscaya akan ada malaikat yang menyeru dalam surga, ‘Hai hamba Allah, apa yang kamu lakukan itu baik sekali!’ Maka barangsiapa yang tergolong rajin shalat, ia akan diseru dari pintu shalat. Barangsiapa termasuk orang yang gemar bersedekah, ia akan diseru dari pintu sedekah. Barangsiapa masuk kelompok orang yang suka berpuasa, ia akan diseru dari pintu ar-Rayyan.” Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah setiap orang akan diseru dari pintu-pintu tersebut?” Beliau menjawab, “Benar, dan aku berharap kamu termasuk di antara mereka.”

Kata al-Qadhi Iyadh, “Dalam hadits tadi, yang disebutkan oleh Muslim baru empat pintu saja. Selebihnya adalah pintu tobat, pintu orang-orang yang menahan amarah, pintu orang-orang yang ridha, dan pintu kanan tempat lewat orang-orang yang masuk surga tanpa dihisab.”

Tirmidzi al-Hakim dalam kitabnya Nawadhir al-Ushul menyebutkan pintu Muhammad. Tetapi, itulah yang terkenal dengan sebutan pintu rahmat atau pintu tobat. Sejak diciptakan oleh Allah, pintu surga yang satu ini selalu terbuka alias tidak pernah dikunci. Kelak ketika matahari sudah mulai terbit dari barat, pintu ini baru ditutup sampai berlangsung hari kiamat.

Pintu-pintu yang lain dibagi atas amal-amal kebajikan. Di antaranya ada pintu untuk amal kebajikan shalat, puasa, zakat serta sedekah, haji, jihad, silaturahmi, dan umrah. Dengan adanya tambahan tiga pintu yang terakhir tadi, maka jumlah pintu surga menjadi sebelas. Demikian atsar riwayat Ibnul Jauzi.

Diriwayatkan oleh al-Ajiri dalam kitabnya An-Nashihat alias Abul Hasan bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu bernama pintu adh-Dhuha. Pada hari kiamat nanti ada malaikat yang menyeru, ‘Mana orang-orang yang tekun menunaikan shalat dhuha? Inilah pintu kalian. Masukilah.’”

Bukti lain yang menunjukkan bahwa pintu surga itu lebih dari delapan ialah hadits Umar ibnul-Khaththab bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, kemudian ia mengucapkan Asyhadu Anla La Ilaha Illallaha Wahdahu La Syarika Lahu, Wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu Wa Rasuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata yang tidak memiliki sekutu sama sekali, dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus rasul utusan-Nya), dengan jujur dari dalam batin atau hatinya, niscaya pada hari kiamat nanti akan dibukakan untuknya delapan pintu di antara pintu-pintu surga. Ia boleh masuk dari pintu mana saja yang ia inginkan.”

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dan oleh lainnya. Abu Umar bin Abdul Barr dalam kitabnya At-Tamhid mengatakan, “.....niscaya dibukakan untuknya di antara pintu-pintu surga.” Sementara Abu Daud, an-Nasa’i, dan Ibnu Sanjar menuturkan, “…..niscaya dibukakan untuknya kedelapan pintu surga”, tanpa ada kalimat di antara. Berdasarkan hal ini, berarti jumlah pintu surga itu hanya delapan, seperti yang dikatakan oleh banyak ulama.

Diriwayatkan oleh Muslim, dari Khalid bin Umair bahwa ketika menjabat sebagai gubernur Basrah, Uthbah bin Ghazawan pernah berpidato di tengah-tengah mereka. Setelah memanjatkan puja dan puji ke hadirat Allah ia mengatakan, “........ Rasulullah menuturkan kepada kita bahwa luas antara dua daun pintu di antara pintu-pintu surga adalah sejauh perjalanan empat puluh tahun. Dan, pasti akan datang pada suatu hari di mana orang-orang harus berdesakan untuk masuk.... “

Diriwayatkan oleh Muslim dari Anas sebuah hadits tentang syafaat, “.... Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya jarak antara dua daun pintu di antara pintu-pintu surga seperti jarak perjalanan antara Mekah dan Hajar, atau antara Mekah dan Basrah.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Sahal bin Sa’ad bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu dari umatku masuk surga. Sebagian mereka saling berpegangan dengan sebagian yang lain. Yang pertama di antara mereka tidak mau masuk sebelum yang terakhir di antara mereka masuk. Wajah mereka seperti bentuk rembulan purnama.”

Hadits-hadits shahih tadi menunjukkan bahwa pintu surga itu lebih dari delapan. Bahkan, berdasarkan riwayat sampai yang terakhir tadi. Jumlahnya sudah menjadi enam belas.

Penulis kitab Al-Arus mengutip sebuah hadits riwayat riwayat ad-Dailami dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw bersabda, “Surga itu memiliki sebuah pintu yang bernama Al-Farah. Yang bisa memasuki pintu tersebut hanya orang yang suka membikin gembira anak-anak.”

Adapun mengenai riwayat yang menerangkan tentang luasnya pintu surga, mungkin yang dimaksud ialah bahwa sebagian pintu surga itu ada yang luasnya sekian, ada yang sekian, dan seterusnya. Jadi, semua riwayat tersebut sama sekali tidak saling bertentangan.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahal bin Sa’ad bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu bernama Ar-Rayyan, tempat lewat orang-orang yang berpuasa. Mereka masuk dari pintu tersebut. Apabila orang yang terakhir di antara mereka masuk, pintu tersebut ditutup sehingga tidak ada seorang pun yang bisa masuk melewatinya.”

Menurut saya, demikian pula dengan pintu-pintu lain yang dikhususkan bagi amal-amal kebajikan. Wallahu a’lam.

Disebutkan dalam sebuah hadits Abu Hurairah, “Sesungguhnya di antara manusia ada orang yang diseru dari semua pintu surga.” Ada yang mengatakan, seruan tersebut merupakan seruan penghormatan dan balasan bagi orang yang telah melakukan berbagai amal kebajikan yang masing-masing memang punya pintu tersendiri.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bertanya, “Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang hari ini mengantarkan jenazah?” Abu Bakar menjawab, “Saya”. Beliau bertanya “Siapa di antara kalian yang hari ini memberikan makan kepada seorang miskin?” Abu Bakar menjawab, “Saya”. Beliau bertanya “Dan, siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang yang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya”. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan semua itu niscaya ia masuk surga.”

Diriwayatkan oleh Abu Daud ath-Thayalisi dalam kitabnya Musnad Abi Daud ath-Thayalisi, dari Ja’far bin Zubair al-Hanafi, dari al-Qasim budak Yazid bin Mua’wiyah, dari Abu Umamah bahwa Rasulullah bersabda, “Seseorang lelaki dibawa ke depan pintu surga. Ketika mengangkat kepala, ia melihat tulisan pada pintu surga, ‘Satu sedekah dibalas sepuluh kali lipat, dan satu piutang dibalas delapan belas kali lipat.’ Soalnya seseorang yang datang kepada kamu untuk berutang itu karena ia sangat butuh, sementara sedekah terkadang bisa saja kamu berikan kepada orang yang sebenarnya tidak membutuhkannya.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitabnya Sunan Ibn Majah, dari Abdullah bin Abdul Karim, dari Hisyam bin Khalid, dari Khalid bin Yazid bin Abu Malik, dari ayahnya, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, “Pada malam aku diisrakan, aku melihat tulisan pada sebuah pintu surga, ‘Satu sedekah dibalas sepuluh kali lipat, dan satu piutang dibalas delapan belas kali lipat.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Kenapa memberikan utang itu lebih utama daripada bersedekah?’ Jibril menjawab, ‘Karena orang yang meminta itu bisa jadi ia sudah punya. Tetapi, orang yang mengajukan utang itu pasti karena sangat membutuhkan.’”

Sumber :






















Judul Asli        : At-Tadzkirat Bi Ahwali al-Mauta wa Umur al-Akhirat
Penulis             : Imam Al-Qurthubi
Penerjemah      : Abdur Rosyad Shiddiq
Penerbit           : Akbar Media - Khazanah Buku Islam Rujukan

Yuk sahabat sekalian, mari qt perbanyak do'a kepada Allah. Sungguh Allah SWT sangat menyukai orang yang selalu berdoa penuh harap dalam meminta kepada-Nya..

Link ke posting ini


Pemain asing yang sudah lama beredar di Indonesia banyak yang jadi mualaf. Salah satunya Cristian Gonzales, pemain naturalisasi Indonesia asal Uruguay yang menjadi aktor penting timnas Indonesia di Piala AFF 2010 yang lalu . Tentunya mereka jadi mualaf setelah melihat aktivitas kawan-kawannya yang mayoritas Muslim.Gonzales banyak belajar Islam dari istrinya, Eva Nurida Siregar. Gonzales dan Eva bertemu di Cili dan menikah pada tahun 1995. Saat itu Gonzales masih beragama Katholik dan istrinya beragama Islam.

Perpindahan Gonzales tahun 2003 ke klub Indonesia PSM Makassar menjadi pintu hidayah bagi Gonzales. Ia banyak belajar dari masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim. Tanggal 9 Oktober 2003 Christian Gonzales memutuskan untuk masuk Islam atas dasar kemauan sendiri dengan disaksikan oleh ustadz Mustafa di Masjid Agung al Akbar Surabaya. Christian Gerard Alfaro Gonzales kemudian diberi nama Mustafa Habibi. Nama Mustafa diambil dari guru spiritualnya, ustadz Mustafa sedangkan Habibi (cintaku) diambil karena rasa cinta sang istri amat besar kepada Christian Gonzales.

Islam memiliki kesan tersendiri bagi Gonzales “Karena di dalam Islam setiap ada sesuatu ada ucapan doanya seperti ketika masuk rumah mengucapkan assalamualaikum, ketika mau melakukan sesuatu diawali dengan basmalah, dan setiap melangkah dalam Islam selalu aja ada bacaan. Dan ini menjadi hati saya merasa tenang” Ungkap Eva mengutip ucapan Gonzales.

Mantan rekan setim Gonzales di Persik Kediri, Danilo Fernando juga memutuskan menjadi mualaf tak lama setelah merumput di Indonesia. Begitu pun dengan pelatih nyentrik asal Moldova, Arcan Iurii.

Di kesebelasan lain ada pemain asal Brasil, Antonio Claudio (Persibom, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara), pemain asal Cile, Patricio Jimenez (Semarang United), dan Javier Rocha (Batavia Union). Keputusan mereka menjadi mualaf umumnya didorong keinginan sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun.

”Tidak ada orang yang memaksa saya masuk Islam. Saya menjadi mualaf murni karena keinginan saya sendiri,” ujar Danilo. Hal yang sama diakui Iurie. “Sebelumnya, aku lahir dan besar sebagai penganut Kristen Ortodoks. Kini aku serius menjadi pemeluk agama Islam. Pilihan ini bukan sekadar main-main,” ucap Iurie.

Sedangkan striker Delras Sidoarjo, Marcio Souza mengatakan dia sudah lama tertarik untuk memeluk Islam. Karena selama empat tahun dia bermain di Indonesia yang merupakan negara Islam terbesar di dunia, juga ikut memengaruhinya.

“Saya senang dan tertarik melihat kawan-kawan lain, selalu taat dan rutin beribadah kalau pas tiba waktunya shalat. Bahkan di tengah perjalanan sekali pun kawan-kawan tak lupa beribadah. Mereka seperti menemukan kedamaian saat beribadah,” katanya.


Sumber : eramuslim.com
Link ke posting ini
 

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Bila tiga hal telah terjadi, maka iman sesorang tidak akan berguna lagi baginya, baik bagi orang yang belum pernah beriman sebelumnya maupun orang sebelumnya maupun orang yang telah melakukan kebajikan dalam keimanannya. Yaitu, terbitnya matahari dari barat, Dajjal, dan binatang melata.”

Tirmidzi dan Daruquthni meriwayatkan dari Safwan bin ‘Asaal al-Maradi bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya di barat ada sebuah pintu yang terbuka untuk tobat, jaraknya tujuh puluh tahun, pintu itu tidak akan ditutup sampai matahari terbit dari sana.” Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan sahih.

Sufyan mengatakan, “Allah menciptakan pada hari penciptaan langit dan bumi pintu yang terbuka untuk tobat di arah Syiria, dan ia tidak ditutup sampai matahari terbit dari sana.”

Abu Ishaak ats-Tsa’labi dan para ahli tafsir lainnya dalam sebuah hadits panjang menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. Bersabda, “Matahari akan ditahan dari manusia (tidak terbit) selama satu malam di bawah ‘Arasy bila kemaksiatan merajalela di muka bumi, kebaikan hilang, tidak ada satu pun yang menyeru kepada kebaikan, dan kemungkaran tersebar luas tanpa ada seorang pun yang mencegahnya.

Setiap kali matahari sujud kepada Allah dan minta izin dari mana ia akan terbit, ia tidak mendapatkan jawaban. Bahkan, bulan pun ikut sujud bersamanya, dan bulan minta izin dari mana ia akan muncul. Tetapi, keduanya tetap tidak mendapat jawaban. Sampai matahari ditahan selama tiga malam dan bulan ditahan selama dua malam, tidak ada yang tahu lamanya satu malam tersebut kecuali orang yang suka tahajjud di bumi, dan jumlah mereka di setiap negeri kaum muslimin sangat sedikit.

Ketika sudah mencapai tiga malam, Allah mengirim Malaikat Jibril kepada keduanya. Jibril berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi memerintahkan kalian untuk terbit dari barat, tanpa sinar dan cahaya.’ Lalu, keduanya terbit dari barat dalam keadaan hitam tanpa sinar dan cahaya seperti gerhana, sebagaimana firman Allah dalam surah al-Qiyaamah ayat 9, ‘Matahari dan bulan dikumpulkan’, dan surah at-Takwiir ayat 1, ‘Apabila matahari digulung.’

Keduanya terus meninggi dan saat sampai di pertengahan langit, Malaikat jibril lalu memegang tanduk keduanya dan mengembalikan keduanya ke arah barat. Keduanya tidak terbenam di tempat biasa terbenam. Akan tetapi, kali ini keduanya terbenam di pintu tobat.

Bila pintu tobat sudah ditutup, tobat siapa pun tak akan diterima, dan setiap kebajikan yang dilakukannya tidak lagi bermanfaat, kecuali bila ia berbuat hal itu sebelumnya. Itulah makna firman Allah surah al-An’aam ayat 158, ‘…tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.’

Setelah itu matahari dan bulan kembali mendapatkan sinar dan cahayanya. Keduanya kembali terbit dan terbenam di tempat biasanya.”

Al-Mayanisyi menyebutkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda, “Manusia masih hidup setelah terbitnya matahari dari barat, selama seratus dua puluh tahun.”

(Pasal 1)

Para ulama mengatakan bahwa iman seseorang tidak memberikan manfaat apa-apa kepadanya saat terbitnya matahari dari barat. Karena, ketakutan menyelimuti hatinya sehingga menyebabkan nafsu syahwat menjadi beku, dan kekuatan menjadi sirna. Kondisi manusia saat itu seperti orang yang sedang menghadapi kematian. Keinginan untuk berbuat maksiat tidak ada lagi, karena ia yakin kiamat akan segera tiba. Orang yang tobat pada saat seperti ini, tobatnya tidak akan diterima, sebagaimana tidak diterimanya tobat orang yang tengah mengalami sakaratul maut.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah masih akan menerima tobat seorang hamba sebelum nyawanya sampai di tenggorokan.” Yaitu, saat nyawa sudah sampai di ujung tenggorokan, saat di mana ia bisa melihat tempatnya di surga atau di neraka, maka kondisi manusia saat terbitnya matahari dari barat juga demikian.

Karena itu, seharusnya setiap orang yang mengetahui hal ini, selalu memperbaharui tobatnya sepanjang hidup. Karena pengenalan terhadap Allah dan Nabi saw serta mengetahui janji-Nya, sudah menjadi suatu kewajiban yang bersifat darurat.

Bila umur dunia semakin tua hingga manusia lupa masalah besar ini, hingga tidak ada lagi yang membicarakannya kecuali sedikit sekali, dan berita ini hanya diketahui oleh orang tertentu saja, maka bagi orang yang masuk Islam pada saat-saat tersebut ataupun bertobat, tobatnya akan diterima.

Ada yang mengatakan bahwa hikmah dari terbitnya matahari dari barat adalah karena Nabi Ibrahim pernah mengatakan kepada Namrud,

“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu heran terdiamlah orang kafir itu.” (QS. Al-Baqarah : 258)

Orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah dan para ahli perbintangan mengatakan bahwa hal ini mustahil dan tak mungkin terjadi. Karena itu, Allah menerbitkan matahari dari barat untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada orang-orang yang mengingkari hal tersebut. Allah bisa menerbitkannya dari timur ataupun dari barat sesuai kehendak-Nya.

Sebab itu, bisa jadi tobat dan keimanan yang ditolak adalah keimanan dan tobatnya orang-orang yang mengingkari hal tersebut dan orang-orang yang mendustakan berita yang disampaikan Rasulullah. Adapun bagi yang membenarkannya, maka tobatnya akan tetap diterima dan imannya akan memberi manfaat baginya sebelum kejadian itu.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Tidak diterima suatu amalan atau tobatnya orang kafir jika ia masuk Islam saat ia melihatnya (matahari terbit dari barat), kecuali jika ia masih kecil saat itu. Atau, bila beberapa waktu kemudian ia masuk Islam, keimanannya akan tetap diterima. Atau, orang beriman tapi berbuat dosa, tobatnya akan diterima.”

(Pasal 2)

Ada beberapa perbedaan riwayat tentang tanda-tanda yang pertama muncul. Ada yang meriwayatkan bahwa terbitnya matahari adalah tanda pertama, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim. Ada juga yang mengatakan bahwa keluarnya Dajjal adalah tanda pertama. Pendapat kedua inilah yang lebih kuat, berdasarkan sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Dajjal akan keluar kepada kalian, dan itu adalah pasti.”

Kalau matahari terbit dari barat sebelum munculnya Dajjal, maka keimanan orang Yahudi tidak akan ada gunanya pada saat turunnya isa. Dan, bila itu yang terjadi, maka Islam tidak menjadi satu-satunya agama yang dianut.

Sumber :





Judul Asli        : At-Tadzkirat Bi Ahwali al-Mauta wa Umur al-Akhirat

Penulis             : Imam Al-Qurthubi
Penerjemah      : Abdur Rosyad Shiddiq
Penerbit           : Akbar Media - Khazanah Buku Islam Rujukan


Demikianlah yg saya kutip dari buku ini, semoga bermanfaat buat kita semua... Mari sahabatku skalian, perbanyak taubat dan beramal shalih..

Oleh karenanya, saudaraku yang tercinta
Pintu taubat ada di hadapanmu terbuka lebar, ia menanti kedatanganmu…
Jalan kaum yang bertaubat telah dihamparkan, …
Ia merindukan pijakan kakimu…
Maka ketuklah pintunya dan tempuhlah jalannya. Mintalah taufik dan pertolongan kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya Dia Maha mengampuni kesalahan hamba-hamba yang benar-benar bertaubat kepada-Nya” (QS. Al Israa’ : 25). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Dzat Yang Maha pengampun lagi Maha penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan” (QS. Az Zumar : 53-54)

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana” (QS. An Nuur : 10). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya” (QS. An Najm  : 32). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu” (QS. Al A’raaf : 156)




Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, jiwa dan harta mereka, bahwasanya mereka kelak akan mendapatkan surga...
Link ke posting ini
Berikut adalah 99 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman :
01. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
02. Sabar apabila mendapat kesulitan;
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
08. Jangan usil dengan kekayaan orang;
09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksessan;
11. Jangan tamak kepada harta;
12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri.
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
18. Jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah di masjid;
25. Biasakan shalat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do’a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan;
36. Jangan percaya ramalan manusia;
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41. Berlakulah adil dalam segala urusan;
42. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
45. Perbanyak silaturrahim;
46. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
47. Bicaralah secukupnya;
48. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
49. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
50. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
51. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
52. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
53. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
54. Hormatilah kepada guru dan ulama;
55. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
56. Cintai keluarga Nabi saw;
57. Jangan terlalu banyak hutang;
58. Jangan terlampau mudah berjanji;
59. Selalu ingat akan saat kematian dan sedar bahawa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
60. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;
61. Bergaul lah dengan orang-orang soleh;
62. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
63. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
64. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
65. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
66. Jangan membenci seseorang karena pahaman dan pendiriannya;
67. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
68. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan
69. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan.
70. Jangan melukai hati orang lain;
71. Jangan membiasakan berkata dusta;
72. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
73. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
74. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
75. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita
76. Jangan membuka aib orang lain;
77. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
78. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
79. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
80. Jangan sedih karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
81. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama,bangsa dan negara;
82. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
83. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
84. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
85. Hargai prestasi dan pemberian orang;
86. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
87. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan.
88. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
89. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisikal atau mental kita menjadi terganggu;
90. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
91. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
92. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
93. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita sebelum dipastikan kebenarannya;
94. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
95. Sambutlah huluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
96. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuan diri;
97. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tentangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
98. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan merusakan;
99. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang

“Sebarkanlah walau satu ayat pun” (Sabda Rasulullah SAW) “Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Surah Al-Ahzab:71)
Link ke posting ini